Dongeng

Gadis Pencari Kayu Bakar

Hasil gambar untuk kartun pencari kayu

Atin adalah gadis sebatang kara. Kedua orang tuanya telah meninggal, sejak ia masih kecil. Satu-satunya teman yang setia menghibur hanyalah seekor kucing, yang diberinya nama Putih. Kemana pun Atin pergi, Putih selalu menemani. Sehari-harinya Atin selalu mencari kayu bakar di hutan dan dijual ke pasar untuk makan.

Pagi itu, Atin telah keluar dari hutan. Seonggok kayu kering tergendong di punggungnya. Putih berlari-lari di belakang membuntuti. Di tengah jalan, seorang Nenek menghadang langkahnya. Atin berharap, Nenek itu akan membeli kayu bakarnya.

“Mau membeli kayu bakar, Nek?” tawar Atin ramah.

Nenek yang membawa tongkat kayu itu, melotot ke arahnya. “Rupanya, kau pencuri yang selama ini mengambil kayu-kayu di hutanku!” bentak Nenek itu keras.

“Sa … saya tidak mencuri, Nek!” kata Atin dengan tubuh gemetar. “Saya tidak tahu, kalau hutan itu punya Nenek.”

“Jangan banyak bicara. Sekarang cepat kamu bawa kayu bakar itu ke rumahku. Jika tidak, aku akan menyihirmu jadi batu,” perintah Nenek yang ternyata seorang penyihir.

Atin tidak berani melawan. Dengan berat hati, ia membawa kayu bakarnya ke rumah nenek sihir itu. Karena tidak bisa menjual kayu bakar, Atin terpaksa menahan lapar. Ia tidak punya uang, untuk membeli makanan. Beruntung, Putih selalu menemani, sehingga gadis kecil itu dapat melupakan rasa laparnya.

Esok harinya, dengan menahan rasa melilit di perutnya, Atin kembali mencari kayu bakar. Kali ini, ia pergi ke hutan yang lain, untuk menghindari Nenek Sihir. Setelah beberapa potongan kayu bakar di dapat, Atin segera berangkat ke pasar. Karena tidak ingin bertemu dengan Nenek Sihir, Atin mengambil jalan memutar.

“Anak bandel! Lagi-lagi kamu mencuri kayu dari hutanku!” seru Nenek Sihir menghentikan langkah Atin.

“Tidak, Nek. Kayu bakar ini saya ambil dari hutan, jauh di lereng gunung,” jawab Atin.

“Tidak peduli. Hutan itu juga dalam kekuasaanku. Cepat kamu letakkan kembali kayu itu di rumahku. Kalau tidak … aku sihir kamu menjadi batu!” hardik Nenek Sihir. Lagi-lagi Atin tidak berani melawan. Dengan patuh dibawanya kayu bakar itu ke rumah Nenek Sihir.

Sejak saat itu, Nenek Sihir selalu mencegat dan merampas kayu bakar milik Atin. Kasihan Atin. Tubuhnya semakin lemah, karena kelaparan.

Pagi itu, dengan tubuh gemetar tak bertenaga, Atin kembali memikul kayu bakarnya ke pasar. Nenek Sihir kembali menghadang jalan.

Atin yang tubuhnya semakin lemah, kali ini memilih kabur. Melihat Atin melarikan diri, Nenek Sihir menjadi murka. Di acungkan tongkat sihirnya, ke arah Atin. Tubuh Atin lenyap dan berubah menjadi seekor kelinci. Dengan mudah, Nenek Sihir itu menangkap dan membawanya pulang.

Sementara itu, si Putih yang lepas dari buruan Nenek Sihir, diam-diam membuntuti mereka. Dari atas loteng rumah Nenek Sihir, kucing itu memperhatikan Nenek Sihir memasukkan kelinci, ke dalam keranjang besi. Ternyata, di rumah Nenek Sihir banyak terdapat binatang tangkapan. Ada landak, anjing, monyet dan kucing. Beberapa sangkar burung juga tergantung, di atas rumah. Dengan bersungut-sungut, Nenek Sihir menuju kuali besar, di atas perapian.

“Setelah gadis ini aku sihir menjadi kelinci, terpaksa aku harus mencari kayu bakar sendiri, untuk memasak ramuan sihirku,” omel Nenek Sihir. Diaduk-aduknya ramuan sihir dengan jengkel. Karena kecapekan, Nenek Sihir memutuskan untuk tidur.

Saat itulah, Putih mengendap-endap turun. Namun, sebelum kucing itu mendekati tuannya yang diubah menjadi kelinci, ia melihat beberapa ekor tikus berlarian di loteng rumah. Dengan gesit, dikejarnya tikus-tikus itu. Namun, saat hendak menerkam seekor tikus, tiba-tiba terdengar seruan, “Jangan kamu makan tikus itu!”

Putih kebingungan, lalu mencari sumber suara itu.

“Aku Burung Betet,” ujar Burung Betet di dalam sangkar, tak jauh dari putih.

“Tikus-tikus itu adalah prajuritku, yang telah disihir oleh Nenek Sihir,” kata Burung Betet lagi. “Sekarang, selagi Nenek Sihir tidur, cepat ambil tongkatnya. Bakarlah tongkat itu di perapian. Tongkat itu adalah sumber kekuatan sihirnya!”

Dengan gesit, Putih turun ke bawah. Dilihatnya tongkat itu bersandar di dinding, dekat tempat tidur Nenek Sihir. Sekuat tenaga Putih menggigit tongkat itu, lalu membawanya ke perapian. Saat itulah, tiba-tiba Nenek Sihir terbangun dari tidurnya. Melihat seekor kucing membawa tongkatnya, kemarahannya meluap. Ia melompat untuk menerkam kucing itu, namun Putih dengan gesit menghindar. Tongkat itu dilemparkannya ke dalam perapian. Dengan cepat, api melahap tongkat kayu itu.

“Aaaawww …!” Nenek Sihir menjerit keras. Tubuhnya lemas jatuh ke tanah.
Keajaiban terjadi. Binatang-binatang di tempat itu, seketika berubah bentuk menjadi manusia.

“Putih …!” Atin yang telah berubah ke bentuk asalnya, berseru bahagia. Dipeluknya tubuh Putih.

Saat itu, seorang pemuda tampan mendekati Atin. “Aku mengucapkan terima kasih. Berkat kecerdikan kucingmu itu. Kami kembali menjadi manusia,” ucapnya.
“Siapakah Tuan?” Tanya Atin lugu.

“Aku adalah Pangeran Kerajaan Tanggula. Aku disihir oleh penyihir tua itu, saat berburu di hutan,” terang Pangeran.

Sang Pangeran kemudian memerintahkan prajuritnya, untuk menangkap Nenek Sihir. Atin lalu diboyong Pangeran ke istana dan dijadikan Permaisuri. Gadis penjual kayu itu akhirnya hidup bahagia, bersama dengan Pangeran dan Putih, kucing kesayangannya. @@@

1 thought on “Gadis Pencari Kayu Bakar”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s