Cerita Anak

Kado Misterius

Hasil gambar untuk kartun kado ultah

Hari-hari berlalu dengan cepat dan dipenuhi kesibukan. Itulah yang dirasakan Via, seorang siswi kelas enam, yang bersekolah di SDN I Sidodi ini. Makhlumlah, tinggal dua hari lagi dia akan merayakan ulang tahunnya yang ke-12. Dan, setiap kali berulang tahun, kedua orang tuanya selalu merayakan dengan meriah.

Sambil menghias ruangan, Via tersenyum-senyum sendiri. “Aduh, senangnya yang akan berulang tahun,” kata Bik Odah, sambil membawakan makanan kecil untuk Via.

“Iya donk Bik,” jawab Via nyengir.

“Ngomong-ngomong, teman-teman yang Non Via undang banyak, ya?” tanya Bik Odah kembali. “Lumayan sih Bik. Tapi, kali ini lebih banyak dari pada yang dulu. Memangnya kenapa sih, Bik?” sahut Via, balik bertanya.

“Ya, nggak ada apa-apa Non, cuma tanya aja,” jawab Bik Odah sambil berlalu ke dapur.
Sesaat kemudian, terdengar suara yang memanggil-manggil Via. “Via …, Via …, kemari sebentar. Mama ada perlu!” teriak Mama dari ruang makan.

“Ada apa ya, Ma?” jawab Via, sambil berlari menuju ruang makan, dimana mamanya berada. “Tolong kamu lap piring-piring itu! Mama mau menggunakannya, untuk wadah kue-kue pada acara ulang tahunmu nanti,” perintah Mama, sambil menyodorkan kain lap kepada Via.

“Baik, Ma,” jawab Via penuh semangat.

###

Akhirnya, tibalah hari yang dinanti-nantikan Via. Semua temannya berkumpul dengan berpakaian lucu-lucu, karena di dalam surat undangan, dicantumkan agar memakai pakaian unik.

“Via, kita mulai saja pestanya. Kelihatannya semua teman-teman sudah berkumpul,” ajak Dewi, teman akrab Via. “Baiklah,” sahut Via lirih. Tidak berapa lama, suasana di dalam rumah Via yang semula sangat ramai berubah menjadi hening dan tenang, karena semua tamu sedang mendo’akan Via agar panjang umur.

Tiba-tiba terdengar mobil berhenti di depan rumah Via. Suara klaksonnya sangat keras, sehingga semua tamu jadi tersentak karena kaget. ‘Ting … tong … ting … tong …’ bel pintu rumah Via berbunyi. Bik Odah segera membuka pintu.

“Maaf Bik, apakah di sini benar rumah Tuan Andri?” tanya seorang lelaki, yang berada di luar pintu.

“Benar, memangnya ada perlu apa?” Bik Odah balik bertanya.

“Saya disuruh mengantarkan kado ini, untuk Nona Via,” kata laki-laki itu, sambil menyodorkan sebuah kado kepada Bik Odah.

“Tapi kado ini dari mana?” tanya Bik Odah kembali.

“Saya tidak tahu, karena saya hanya ditugaskan oleh bos saya,” jawab lelaki itu.

“Kalau begitu terima kasih, ya! Nanti akan saya sampaikan kepada Nona Via,” ujar Bik Odah. Kemudian laki-laki itu meninggalkan rumah Via.

“Siapa, Bik?” tanya Via sambil mendekati Bik Odah.

“Seorang laki-laki yang lumayan tua, Non. Tapi saya tidak kenal,” sahut Bik Odah.

“O .. iya Non, laki-laki tadi kemari disuruh mengantarkan kado untuk Non Via,” lanjut Bik Odah.

“Coba lihat, Bik. Kira-kira isinya apa ya …?” kata Via. Belum sempat Via memegang kado itu, Dewi sudah mengambilnya lebih dulu, dari tangan Bik Odah. “Tunggu sebentar, Vi. Jangan di buka dulu ya …!” pinta Dewi pada Via.

“Memangnya ada apa sih, Wi?” tanya Via penasaran.

“Aku tadi sedikit mendengar pembicaraan Bik Odah dengan laki-laki itu. Dari pendengaranku, kado itu tidak diketahui siapa pengirimnya. Kita kan harus hati-hati, jangan terburu-buru membukanya. Siapa tahu isi kado itu adalah bom,” jelas Dewi.

Mendengar perkataan Dewi, seluruh tamu menjadi gempar. Apalagi Dewi berbicara terlalu keras.

“Teman-teman, tenang!” teriak Via, menenangkan temannya.

“Vi, kita harus segera membuang kado itu. Kalau tidak, kita semua akan celaka,” kata Aldo, salah seorang teman Via, yang tampak sangat panik.

“Teman-teman, Dewi kan hanya memperkirakannya saja. Jadi, ada kemungkinan, isi kado itu bukan bom,” kata Via menjelaskan.

“Tapi, Vi. Sudah sering diberitakan banyak bom meledak karena orang yang diberitahu tidak percaya,” lanjut teman Via yang lain.

“Daripada kita semua panik, lebih baik kita mencoba membuka kado itu,” terdengar suara usulan teman Via.

“Ya, itu usul yang bagus,” jawab Via sambil tersenyum.

Semua jantung berdetak keras, saat Via berlahan-lahan membuka kado, yang berada ditangannya. Satu per satu bungkus kado itu terlepas dan tiba-tiba semuanya tertawa terbahak-bahak, setelah mengetahui isi kado itu adalah boneka katak. Dibelakang boneka itu terdapat tulisan ‘Selamat Ulang Tahun Cucuku Yang Tercinta. Semoga Panjang Umur’.

“Aduh, gara-gara kado dari Kakek, kita semua jadi panik,” kata Via sedikit kesal.

“Yang penting, sekarang sudah jelas. Lebih baik kita teruskan saja pestanya, sebelum malam semakin larut,” ajak Dewi.

“Ya, kami semua setuju,” teriak teman-teman Via yang lain.

Sekitar 30 menit kemudian, pesta ulang tahun Via yang meriah itu akhirnya selesai.

Semua teman-temannya sudah pulang ke rumah masing-masing.

Menjelang tidur, Via berkata dalam hati, “Pesta ulang tahunku kali ini, tidak akan pernah kulupakan.” Tidak berapa lama kemudian, Via sudah terhanyut ke alam mimpi. @@@

4 thoughts on “Kado Misterius”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s