Fabel

Jangan Suka Berburuk Sangka

Hasil gambar untuk gambar kartun burung nuri dan jerapah

“Ciiit … ciiit … ciiit …!”
Induk Nuri tergagap bangun. Dikembangkan sayapnya dengan lebar, melindungi dua anaknya yang terus berkeciap di bawah eramannya. Sepasang matanya berputar-putar cemas. Jangan-jangan ada bahaya mengintai mereka.

“Selamat pagi, Ibu Nuri,” sebuah kepala menjulur. Induk Nuri terhenyak kaget.

“Maafkan kalau kedatanganku mengejutkanmu,” ujar Jerapah tersenyum ramah.

“Mau apa kau kemari? Lihat, anak-anakku pada ketakutan melihatmu,” maki Induk Nuri galak.

“Anakmu berkeciap karena lapar. Bukan karena takut padaku,” jawab Jerapah ringan.

“Ah, sok tahu kamu!” omel Induk Nuri lagi.

“Aku tidak bermaksud mengganggumu Bu Nuri. Setiap hari aku datang kemari mencari makan. Kebetulan saja, aku melihat ada penghuni baru disini. Apa salah, kalau aku ingin mengenal kalian?” ucap Jerapah.

“Huh, pokoknya, aku tidak suka kamu datang kesini,” seru Induk Nuri penuh emosi. Induk Burung Nuri merasa khawatir, Jerapah menyimpan niat jahat. Siapa tahu ia sedang memata-matai mereka. Terus nanti memberitahu Ular atau Kucing Hutan, yang suka memangsa bangsa burung. Hii …, Induk Nuri bergidik ngeri, takut membayangkan anaknya jadi santapan mereka.

Jerapah yang melihat sikap kurang ramah Induk Nuri, kemudian berlalu.
Induk Nuri menghela nafas lega. Kedatangan Jerapah dianggap telah mengusik ketenangannya. Semula ia berpikir sarang barunya sudah cukup aman dan sulit dijangkau binatang buas. Siapa sangka si leher panjang itu mengetahui sarangnya. Duh, apakah ia harus mencari sarang baru lagi?

“Ciiit … ciiit … ciiit …!” anak-anak Nuri berkeciap lapar. Induk Nuri terbang meninggalkan sarang untuk mencari makan.

Kucing Hutan yang sedari tadi meringkuk di atas dahan besar, bergerak gesit memanjat ke atas, setelah melihat kepergian Induk Nuri. Sepasang anak Nuri meringkuk ketakutan, melihat Kucing Hutan mendekati mereka.

Taring-taring runcing Kucing Hutan siap mengoyak tubuh mungil anak Nuri, ketika tiba-tiba pukulan keras menghantam tubuhnya. Kucing Hutan terhempas ke bawah. Beruntung ia tidak sampai jatuh ke tanah.

Dilihatnya Jerapah telah berdiri dekat sarang burung Nuri. Kucing Hutan ciut nyalinya. Ia memilih kabur menyelamatkan diri.

Tiba-tiba Induk Nuri muncul. Dengan penuh kemarahan, ia langsung menyerang Jerapah.

“Aduh … aduh …! Kenapa kamu menyerang aku?” kata Jerapah menjerit kesakitan. Namun, Induk Nuri tidak menghiraukan jeritan Jerapah. Ia terus mematuk-matuk tubuh Jerapah.

“Aku tadi telah menyelamatkan anakmu dari sergapan Kucing Hutan. Kenapa kamu menyakiti aku?” keluh Jerapah sambil melangkah pergi.

Induk Nuri sama sekali tidak menghiraukan ucapan Jerapah. Ia mendekap tubuh anaknya yang gemetar ketakutan.

Sudah beberapa hari Jerapah tidak menampakkan diri. Induk Nuri berpikir, Jerapah jera dan tidak berani mengusiknya lagi. Syukurlah, ia bisa lebih tenang mengasuh anak-anaknya.

Matahari yang sedang terik-teriknya siang itu, meredup tiba-tiba. Sinar matahari tertutup oleh sosok bayangan besar, yang melayang di angkasa.

Celaka. Itu pasti Elang! Induk Nuri menjadi sangat panik. Tamatlah riwayatnya kali ini.
Elang menukik deras ke arah Nuri.

“Tolooong …!” Induk Nuri berteriak melengking. Kuku-kuku tajam Elang nyaris mencengkeramnya. Untunglah datang Jerapah menyelamatkannya.

Dengan sekuat tenaga, Jerapah berusaha menghalau Elang. Walau pun bukan lawan sebanding, Jerapah tidak menyerah begitu saja. Elang yang mendapatkan perlawanan gigih, akhirnya memilih pergi.

Melihat tubuh Jerapah luka-luka, Induk Nuri terbang mendekat.

“Apakah kamu tidak apa-apa?” tanya Induk Nuri cemas.

“Jangan hiraukan aku!” kata Jerapah siap berlalu.

“Tunggu …!” Induk Nuri memanggil. Jerapah berhenti.

“Terima kasih kamu telah menyelamatkan aku dan anak-anakku. Aku juga minta maaf atas sikap burukku selama ini,” ucap Induk Nuri penuh penyesalan.

“Sama-sama. Sudah sepatutnya kita saling menolong. Aku harap, janganlah kamu suka berburuk sangka. Bila aku suka mendatangi sarangmu, karena aku suka menjalin persahabatan denganmu,” ucap Jerapah.

“Pasti. Pasti aku bersedia bersahabat denganmu,” sahut Induk Nuri senang.

Induk Nuri mendapat pelajaran berharga. Hendaknya tidak mudah berburuk sangka. Mereka pun menjadi sahabat tidak terpisahkan. @@@

 

 

Mentari, Edisi 318 Tahun 2006

2 thoughts on “Jangan Suka Berburuk Sangka”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s