Cerita Anak

Hadiah Kejujuran

Hasil gambar untuk gambar kucing lucu

Yanto adalah anak yatim dari keluarga kurang mampu. Ayahnya meninggal, sejak ia berumur dua tahun. Ibunya mencari nafkah, dengan bekerja sebagai pencuci pakaian keliling. Sudah dua bulan terakhir ini, kondisi kesehatan ibu agak menurun. Cucian ibu makin berkurang, akibatnya Anto menunggak membayar uang sekolah. Beruntung kepala sekolah Anto mengerti kondisi ini. Anto masih diberi tenggang waktu, untuk membayar uang sekolahnya.

Melihat kondisi ibu yang tidak membaik dan keinginan untuk terus sekolah, Anto bermaksud mencari pekerjaan. Anto lalu menemui Pak Hasan, di bengkel mobilnya. Mendengar niat Anto, pada awalnya Pak Hasan menolak. “Kamu baru kelas 5 SD, belum waktunya bekerja. Tugas kamu sekarang adalah belajar,” kata Pak Hasan menasehati Anto.

“Tolonglah, Pak. Saya butuh biaya untuk sekolah,” kata Anto memelas. “Saya ingin terus sekolah, Pak. Selain itu, ibu saya juga butuh uang untuk pengobatan, lanjut Anto dengan wajah sedih.

Mendengar niat dan kegigihan Anto, hati Pak Hasan pun akhirnya luluh. Anto diberi kesempatan mencoba bekerja, selama sebulan dahulu. Tugasnya hanya membersihkan mobil yang selesai diperbaiki, lalu akan dibawa pemiliknya.

Sejak saat itu, setiap pulang sekolah Anto bekerja di bengkel Pak Hasan sampai sore. Anto bekerja giat sekali. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, yang sudah diberikan kepadanya. Pak Hasan dan semua karyawan merasa puas, dengan pekerjaannya.

Ada juga pelanggan yang berusaha memberi tips, kepada Anto. Tapi dengan polos Anto menolaknya. Anto takut melanggar aturan bengkel. Kalau ketahuan Pak Hasan, aku nanti malah dipecat, begitu selalu pikir Anto. Anto selalu ingat nasihat ibunya, agar selalu berlaku jujur, kepada setiap orang.

Hari ini, tepat dua minggu Anto bekerja di bengkel Pak Hasan. Ia diberitahu, kalau diijinkan bekerja di sana, karena pekerjaan dan perilaku yang baik. Selain itu, Pak Hasan berniat baik memberikan pinjaman kepada Anto, untuk melunasi uang sekolahnya yang tertunggak. “Benar, Pak?” tanya Anto seperti tidak percaya. Anto kemudian menyalami dan mencium tangan Pak Hasan sambil menangis. “Sudahlah … Ayo bekerja lagi. Tetap rajin, ya!” pesan Pak Hasan. Anto menganggukkan kepala, sambil mengusap air matanya.

Keesokan harinya, Anto pergi ke bengkel dengan hati yang riang. Tadi pagi, ia sudah melunasi semua tunggakan uang sekolahnya. Anto tidak perlu malu lagi, bertemu dengan guru dan kepala sekolahnya.

Sesampainya di bengkel. Anto langsung mengambil perlengkapan untuk membersihkan mobil. Rupanya, ini mobil Pak Yono, pelanggan tetap bengkel. Pak Yono terlihat berbincang serius dengan Pak Hasan di kantor. Pak Yono terburu-buru ingin segera membawa pulang mobilnya.

Beberapa saat kemudian, Anto mulai membersihkan bagian dalam mobil. Ketika membersihkan sela-sela kursi depan, tiba-tiba tangannya menyentuh sesuatu. Anto kaget, ternyata segepok uang seratus ribuan, yang diikat gelang karet. Tanpa pikir panjang, Anto segera membawa uang itu ke Pak Hasan.

“Permisi Pak Hasan. Maaf, mengganggu,” kata Anto di depan Pak Hasan dan Pak Yono.

“Ada apa, Anto?” tanya Pak Hasan.

“Saya menemukan ini, di mobil Pak Yono yang sedang saya bersihkan,” lapor Anto sambil menyodorkan uang itu.

“Loh?? Ya ini Pak, yang saya cari-cari dari kemarin!” sahut Pak Yono, mengagetkan Anto.

“Saya tidak bermaksud mengambilnya, Pak. Sumpah, saya …,” kata Anto ketakutan.

“Bukan, Nak. Jangan salah paham,” kata Pak Yono menenangkan Anto. “Justru Bapak yang harus berterima kasih sama kamu. Kamu sudah mengembalikan uang Bapak. Kamu jujur sekali, Nak,” lanjut Pak Yono gembira. Ternyata Pak Yono kehilangan uangnya kemarin, tetapi tidak tahu jatuh ke mana.

“Sekarang terimalah uang ini sebagai hadiah atas kejujuranmu,” kata Pak Yono sambil menyodorkan beberapa 3 lembar uang lima puluh ribuan, ke tangan Anto.
Melihat Anto yang berusaha menolak pemberian itu, Pak Hasan berkata, “Terimalah Anto. Itu adalah buah manis kejujuran kamu. Ibumu pasti bangga, memiliki anak seperti kamu.”

“Gunakan uang itu untuk berobat ibumu ke dokter dan membeli obat. Kalau masih kurang, bilang sama Bapak, ya!” kata Pak Hasan sambil memegang pundak Anto.
Akhirnya Anto bersedia menerima pemberian uang dari Pak Yono. Ia tidak lupa mengucapkan terima kasih. Anto berkali-kali mengucapkan syukur, kepada Allah Yang Maha Memberi Rezeki.

Sesampainya di rumah, Anto menceritakan apa yang dialaminya kepada ibunya. Ibu memeluk Anto sambil menangis terharu dan bangga. Anto sadar, semua ini dapat terjadi berkat nasihat ibunya. “Terima kasih, Ibu,” bisik Anto memeluk ibunya erat-erat. @@@

 

 

Majalah Mentari Edisi 367 Tahun 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s