Abunawas

Suara Cacing Tertawa

beautiful biology blur bright

Husni dikenal banyak orang sebagai orang yang sangat cerdik. Konon, ia banyak membantu orang dengan kecerdikannya. Suatu saat perdana menteri mendengar berita kecerdikan Husni. Ia ingin menguji sejauh mana kehebatan Husni memecahkan persoalan.

Perdana Menteri memanggil Husni datang ke istananya. Dan tanpa rasa curiga, Husni datang menemui sang Perdana Menteri. Dengan senyum penuh kesombongan, Perdana Menteri membuka pembicaraan.

“Hai Husni, benarkah kau orang cerdik yang banyak dibicarakan orang itu?” tanya Perdana Menteri pongah.

“Ah, tidak benar, Paduka! Saya adalah rakyat jelata seperti yang Perdana Menteri lihat sekarang ini,” jawab Husni merendah.

Sejenak, Perdana Menteri mengernyitkan dahi. Ia tahu Husni hanya merendah saja. Perdana Menteri semakin ingin menguji kecerdikan Husni.

“Aku tidak ambil peduli siapa pun kau. Tapi yang jelas, aku mempunyai sebuah persoalan buat kamu. Jika kau mampu menjawabnya seluruh rakyat akan terbebas dari pajak, sebaliknya jika tidak mampu menjawab, seluruh rakyat akan menanggung pajak tiga kali lipat dari semula!”

“Persoalan apa yang harus saja jawab, Perdana Menteri?”

“Gampang saja, aku ingin mendengar suara cacing tertawa. Ha … ha … ha …!”

“Suara cacing tertawa?”

“Ya, cacing hewan kecil itu! Dan aku ingin mendengarnya esok hari. Jelas!” sambung Perdana Menteri seketika.

Husni pulang dengan rasa gundah gulana. Beban persoalan itu begitu memberatkannya. Nasib seluruh negeri ini tergantung pada dirinya.

Sementara itu pihak kerajaan mengumumkan masalah ini pada seluruh rakyat seantero negeri. Semua orang mendengar pengumuman itu dengan seksama. Mereka terperangah pada ketentuan Perdana Menteri itu. Rakyat menjadi panik. Mereka berbondong-bondong ke rumah Husni. Mereka betul-betul berharap Husni dapat memecahkan persoalan sang Perdana Menteri.

“Perdana Menteri memang keterlaluan. Bagaimana mungkin kita dapat menjawabnya?” seru tetangga Husni.

“Tapi kita harus dapat menjawabnya. Kalau tidak, kita semua akan menderita!” timpal yang lain.

“Lalu bagaimana …?”

Mereka semua menoleh pada Husni. Lelaki muda itu diharapkan banyak orang mampu mengatasi masalah ini. Meski perasaannya kacau, Husni mencoba tenang.

“Kita masih punya waktu hingga esok hari!” jawab Husni mencoba meredam kepanikan rakyat.

Semalaman penuh Husni berpikir untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan Perdana Menteri. Seekor cacing tanah ia letakkan diatas meja. Diamatinya gerak gerik cacing tanah itu seakan tak berkedip. Beberapa saat, tampak ia mencoba membolak-balik tubuh cacing tanah itu. Namun tak ada pergerakan yang berarti.

Keesokan harinya penduduk sudah memadati rumah Husni yang kecil. Mereka berharap Husni telah menemukan jawabannya.

“Bagaimana, sudah kau temukan jawabannya?” tanya seorang penduduk penasaran.

Husni tidak menjawabnya. Lelaki muda ini hanya tersenyum sambil menunjukkan sebuah toples kecil di tangannya. Toples itu berisi beberapa ekor cacing tanah berbagai ukuran. Ada yang panjang, ada yang pendek, gemuk, bahkan ada pula yang masih kecil sekali.

Orang-orang tidak tahu maksud Husni. Mereka beramai-ramai mengantar Husni menghadap perdana menteri.

“Bagaimana, kau sanggup mempertunjukkan cacing tertawa?” tanya Perdana Menteri.

“Semalam, saya sudah bertanya pada cacing-cacing ini. Mereka berkata akan tertawa keras, bila tuan-tuan menggelitikinya,” jab Husni sambil menunjukkan samua cacing dalam toplesnya.

Kemudian, Husni membagi semua cacing pada para pejabat dan Perdana Menteri, ia mempersilahkan untuk menggelitiki tubuh cacing. Para pejabat mencobanya. Namun apa daya, tubuh cacing tidak sepadan dengan jari-jari manusia. Sesaat kemudian Perdana Menteri dan para pejabat bermandikan peluh. Tampaknya mereka mulai kesulitan, tapi ingin membuktikannya. Berbagai cara, mereka lakukan agar cacing-cacing itu bisa tertawa. Tanpa disadari justru aksi mereka tampak lucu dan konyol.
Husni dan para penduduk tertawa terpingkal-pingkal.

“Hai Husni, mana suara tawa cacing itu?” teriak Perdana Menteri.

“Tidakkah Tuan Perdana Menteri telah mendengar suara riuh tawa menggema memenuhi ruangan ini?” jawab Husni sambil tertawa.

Perdana Menteri terdiam mendengar jawaban Husni, ia menyadari kebodohannya.

Bagaimana mungkin cacing bisa tertawa. Ia sadar pertanyaannya pada Husni adalah hal yang konyol, dan tak mungkin.

Akhirnya, Perdana Menteri mengakui kecerdikan Husni dan ia pun menepati janji dengan membebaskan rakyat dari pajak. @@@

2 thoughts on “Suara Cacing Tertawa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s