Fabel

Tetangga Baru

Daftar Harga Pelatuk Bawang Terbaru April 2020

Burung Pipit sedang mengerami telurnya, ketika mendengar suara ribut di luar sarang. Seketika matanya terbuka, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sumber keributan. Karena yang dicari tidak ketemu, dia pun terbang meninggalkan sarang, bergerak lincah dari dahan ke dahan.

Astaga! Seekor Burung Pelatuk tengah melubangi batang pohon, yang dahannya dijadikan tempat bersarang. Berbahaya sekali. Kalau diteruskan, bisa roboh pohon itu nanti, batin Pipit.

“Hei, hentikan! Bisa roboh pohon itu nanti!” tegur Burung Pipit.

“Tidak usah khawatir. Lubang yang kubuat tidak terlalu besar. Aku bisa mengira-ngira, agar tidak sampai merobohkan pohon ini,” jawab Burung Pelatuk.

“Tapi suara yang kau buat memekakkan telinga. Mengganggu istirahatku,” kata Burung Pipit.

“Mohon maaf sebelumnya. Aku meminta pengertianmu. Aku terpaksa melubangi pohon ini, karena aku butuh tempat untuk bersarang,” jawab Burung Pelatuk lagi.

“Kenapa tidak membuatnya di atas dahan, sebagaimana sarangku?” tanya Burung Pipit.

“Aku tidak terbiasa bersarang di dahan.”

“Kalau begitu, carilah pohon yang lain.”

“Tidak ada pohon yang cocok selain batang pohon ini,” jawab Burung Pelatuk.

Mendengar jawaban itu, muka Burung Pipit merengut, menampakkan kekesalan hatinya.

Burung Pipit terbang kembali menuju sarang, dengan pikiran yang kacau. Dia merasa seba salah. Untuk mengusir Burung Pelatuk dia tidak mempunyai hak. Batang pohon itu bukan miliknya pribadi, siapa saja dapat menempatinya. Tetapi kalau membiarkan Burung Pelatuk itu menjadi tetangganya, hari-harinya pasti akan terganggu oleh suara rebut. Satu lagi yang membuatnya resah. Bila Burung Pelatuk sampai beranak pinak, batang pohon pasti akan dipenuhi lubang sarang. Tentu saja hal itu akan membuat pohon rapuh, serta berbahaya bila datang angin kencang.

Kekhawatiran Burung Pipit membuatnya melakukan perbuatan tidak terpuji. Setiap kali Burung Pelatuk terbang jauh mencari makanan, Burung Pipit memasukkan berbagai macam kotoran ke dalam sarang Burung Pelatuk. Untungnya Burung Pelatuk burung yang sabar. Sehingga tidak sampai terjadi pertengkaran.

Tanpa terasa waktu pun terus berlalu. Sarang Burung Pelatuk telah selesai dibuat, begitu juga dengan telur-telur Burung Pipit, semua telah menetas. Setiap hari, di atas dahan selalu terdengar kicau ramai anak-anak Burung Pipit, yang tengah bersenda gurau.

Pada suatu hari hujan turun sangat deras, disertai tiupan angin yang kencang. Burung Pipit kebingungan. Sarangnya rusak dihajar tiupan angin dan hempasan air hujan.

Anak-anak Burung Pipit yang ketakutan menciap-ciap dengan kerasnya, sambil menggigil menahan dinginnya angin yang menusuk tulang. Burung Pipit tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Dia hanya bisa menangis, sambil mendekap tubuh anak-anaknya.
Ketika itu, datanglah Burung Pelatuk yang hinggap di dahan, tidak jauh dari sarang Burung Pipit. Burung Pelatuk itu tersenyum ramah. Namun dalam pandangan Burung Pipit, senyuman itu dirasakan mengejek.

“Pergilah kau, kalau kedatanganmu hanya untuk mengejekku!” ucap Burung Pipit dengan kasar.

“Jangan berprasangka buruk dahulu. Kedatanganku kesini untuk menawarkan bantuan. Bawalah anak-anakmu ke sarangku. Di dalam batang pohon, anak-anakmu akan terlindung dari hembusan angin kencang dan guyuran air hujan,” ujar Burung Pelatuk dengan tulus.

Mendengar tawaran bantuan dari Burung Pelatuk, Burung Pipit merasa malu sekaligus terharu. Tidak dia sangka sama sekali, perlakuan buruk yang dia tunjukkan pada Burung Pelatuk selama ini, malah dibalas dengan kebaikan.

“Kenapa kau berbaik hati kepadaku? Bukankah selama ini aku selalu bersikap buruk padamu?” tanya Burung Pipit.

“Tidak ada jeleknya membalas keburukan dengan kebaikan. Lagi pula kita kan bertetangga. Sudah sepantasnya bila kita saling tolong menolong,” kata Burung Pelatuk sambil melemparkan senyum.

Senyum itu dibalas Burung Pipit dengan tatapan mata yang berbinar-binar. Burung Pipit juga tersenyum. Senyum termanis yang dimilikinya.

Sekarang Burung Pipit dan anak-anaknya tidak kehujanan dan kedinginan lagi. Mereka sangat berterima kasih Burung Pelatuk. @@@

 

 

Mentari, Edisi 280 Tahun 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s