Cerita Anak

Kalau Saja …

Resourceful-Parenting: Cari Kata Peralatan Dapur

Meta sudah kelas 5 SD. Tapi selama ini, ia jarang sekali turun ke dapur untuk membantu ibu. Kalau ibu menyuruhnya membatu memasak selalu dijawab dengan, ‘Malas ah.’

Meta hanya mau melakukan pekerjaan-pekerjaan ringan, seperti menyiram bunga dan menyapu halaman. Sama sekali ia tidak suka bekerja di dapur.

“Meta, kamu kan sudah besar. Sudah waktunya kamu belajar memasak. Dulu waktu berumur delapan tahun, ibu sudah pandai memasak. Itu karena ibu sering membantu Nenek, memasak di dapur,” kata ibu suatu pagi.

“Aaaa …, itu kan zaman dulu, Bu. Sekarang kan lain. Anak-anak sekarang waktunya habis buat sekolah dan belajar. Main saja jarang. Lalu buat bantu masak, mana ada waktu?” bantah Meta.

“Iya, tapi kalau kamu bisa membagi waktu dengan baik, tentu ada waktu tersisa buat ke dapur. Ingat lho, Meta. Kamu ini anak perempuan dan anak perempuan harus bisa masak. Coba kalau anak perempuan tidak bisa masak, bagaimana kalau nanti jadi ibu rumah tangga?” kata ibu mencoba menasehati Meta. Tapi Meta tetap tidak terbujuk.

“Ah itu kan masih lama, Bu. Meta belajar masaknya kapan-kapan saja ya? Mbak Ina dulu kan, juga baru bisa masak setelah masuk SMP,” sanggah Meta.

“Ya terserahlah,” kata ibu sambil berlalu. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya.

Minggu itu berlalu dengan cepat. Suatu hari, Bu Reni, Guru Meta mengumumkan sesuatu. “Anak-anak minggu depan akan diadakan kemah bakti di kecamatan. Sekolah kita akan mengirim dua regu. Satu regu putra dan satu regu putri. Untuk itu, kalian harus rajin mengikuti latihan Pramuka, setiap Selasa dan Kamis sore,” kata Bu Reni.

Anak-anak gembira mendengarnya. Dengan penuh semangat mereka mengikuti latihan Pramuka dengan tekun. Akhirnya, tibalah saat pemilihan regu yang akan dikirim ke kemah bakti. Nama Meta termasuk di dalamnya. Ia sangat gembira.

Hari itu, Meta sibuk berkemas-kemas. Dimasukkannya seragam Pramuka dan pakaian tidurnya, ke dalam ransel. Tidak lupa ia membawa selimut, alat sholat serta piring dan gelas. Ya, besok dia akan berangkat berkemah.

Keesokan harinya, halaman sekolah Meta terlihat ramai. Dua belas anak perempuan dan dua belas anak laki-laki telah siap berangkat berkemah. Sebuah truk tampak pula di sana. Anak-anak yang tidak ikut berkemah, memperhatikan mereka dengan penuh rasa kagum. Meta merasa bangga menjadi bagian dari regu yang akan mewakili sekolahnya, dalam kemah bakti itu.

Beberapa saat kemudian, kedua regu itu pun berangkat. Sesampainya di tempat berkemah, dengan sigap mereka segera mendirikan tenda. Beberapa anak tampak sibuk membongkar barang bawaan mereka. Sementara yang lain tampak sibuk mencari kayu bakar, di hutan kecil di sekitar lokasi itu. Meta termasuk yang sibuk mendirikan tenda. Ia melakukannya dengan sigap dan hati riang. Sesekali ia mendendangkan lagu Pramuka, yang segera di sambung oleh teman-temannya.

Begitulah, Meta mengikuti rangkaian kegiatan perkemahan itu dengan sigap dan riang gembira. Masalah mulai timbul saat tiba gilirannya memasak. Hari itu, para peserta kemah akan membantu warga desa memperbaiki jembatan. Meta, Indah dan Rani mendapat giliran memasak. Meta tenang-tenang saja, karena ia tahu Rani jago masak. Jadi ia tidak perlu banyak membantu.

Diluar dugaan, ternyata pekerjaan mereka sangat banyak. Memasak untuk satu keluarga kecil, berbeda dengan memasak untuk dua belas orang. Rani kewalahan. Ia meminta bantuan Indah dan Meta.

“Ta, tolong kau tunggui sayur ini, ya! Tolong jaga apinya, agar tidak terlalu besar. Kalau sudah mendidih, masukkan potongan kentang dan wortel itu!” kata Rani. Ia sendiri hendak mencuci beras bersama Indah.

Meta yang jarang memasak terlihat sangat kaku, saat mengaduk sayur. Api dari tungkunya kurang terkendali. Kadang terlalu besar, tapi kadang juga hampir mati. Saat air dalam panci itu mendidih, Meta ketakutan. Ia tidak berani memasukkan potongan kentang dan wortel, ke dalam air yang bergolak itu. Tapi Rani dan Indah belum kembali. Ia harus segera memasukkan potongan kentang dan wortel itu.

Akhirnya, setelah berusaha keras mengumpulkan keberanian, Meta pun mendekati panci itu. Dibuka tutupnya dan dengan cepat dilemparkannya potongan kentang dan wortel, ke dalam panci. Tiba-tiba …

“Aduh … tanganku!” jerit Meta. Akibat terlalu keras melempar, air yang mendidih di dalam panci terciprat ke tangannya. Meta kesakitan.

“Meta … kamu kenapa? Ta, kamu nggak apa-apa, kan?” tanya Rani dan Indah yang baru datang. Mereka terkejut mendengar Meta menjerit.

“Aduh … tanganku sakit sekali kena air panas!” keluh Meta.

Kamu kurang hati-hati ya, saat memasukkan kentang dan wortel?” tanya Rani yang melihat beberapa kentang dan wortel berserakan di tanah, di dekat tungku. Pasti terjatuh saat Meta memasukkannya ke panci.

“Habisnya, aku takut. Airnya mendidih dan bergolak tidak karuan. Karena itu, kulempar saja potongan-potongan kentang dan wortel itu, ke dalam panci,” kata Meta menjelaskan.

“Ya ampun, Meta! Jadi kamu melemparkan sayur-sayuran itu ke panci? Pantas saja airnya mengenai tangan kamu,” kata Rani sambil tertawa.

“Seharusnya kamu hati-hati. Air dipanci ini tidak akan bergolak kalau kau memasukkan potongan-potongan sayur dengan hati-hati, seperti ini!” kata Rani sambil memasukkan makaroni ke dalam panci itu. Makaroni itu masuk ke panci dengan tenang, tanpa menimbulkan cipratan air.

Meta memperhatikan cara Rani memasukkan makaroni itu, ia jadi malu.
Meta … Meta … begitulah akibatnya kalau tidak pernah membantu ibu memasak, katanya dalam hati.

“Sudah, sana cari obat dan obati tanganmu itu, Ta. Daripada melepuh nanti. Biar aku dan Indah saja yang menyelesaikan tugas memasak,” kata Rani.

Meta menurut. Ia masuk ke tenda dan mengambil obat di kotak obat. Diobatinya tangannya yang terkena air panas. Ia merasa sangat malu dengan kejadian itu. Ia berjanji dalam hati, kalau sudah pulang nanti akan mulai membantu ibunya memasak di dapur dengan rajin. Ia tidak mau kejadian memalukan yang dialaminya saat berkemah itu, suatu saat terulang lagi.

“Kalau saja sejak dulu aku belajar memasak, tentu kejadian ini tidak perlu terjadi,” kata Meta dalam hati, sambil memperhatikan luka di tangannya.

“Aku akan belajar memasak!” tekad Meta selanjutnya. @@@

 

 

Mentari, Edisi 320 Tahun 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s