Cerita Anak

Baju Baru Bea

Ibu Rumah Tangga Menggambar Wanita Pengeringan Pakaian Berwarna ...

Bea sangat gembira. Berkali-kali ia berputar di depan cermin, untuk mematut baju barunya. Ya, Bea memang baru saja dibelikan baju baru, oleh ibunya. Ibu ingin Bea memakainya saat ulang tahunnya, dua minggu lagi. Ratna, sahabat Bea, duduk di atas tempat tidur, sambil memperhatikan Bea yang asyik bercermin.

“Wah, bajunya bagus sekali, Bea! Kau pasti sangat senang!” kata Ratna.

“Iya, benar, Rat. Aku memang sangat senang, mendapat baju baru ini. Lihatnya renda-rendanya bagus sekali, bukan?” kata Bea.

Ratna memperhatikan renda-renda di baju Bea.

“Aku akan langsung memakainya di hari ulang tahunku nanti. Sekarang aku akan menyimpannya,” kata Bea sambil melepaskan baju baru itu dan menggantinya dengan yang lama.

“Ha … ha … ha …, kamu mau langsung memakainya, Bea? Pasti nanti akan mencium bau toko,” kata Ratna sambil tertawa.

“Memangnya kenapa, Rat?” kata Bea bengong.

“Ya, nggak apa-apa sih. Tapi lebih baik kamu cuci dulu baju barumu itu, baru kemudian di simpan. Lagi pula tadi kulihat ada sedikit noda di lengannya,” kata Ratna pada Bea.

Bea pun mengangguk-angguk. Ia menuruti nasihat Ratna. Segera ia pergi mencuci, baju barunya. Baju baru itu lalu di gantung di jemuran. Setelah selesai, ia kembali ke kamar dan mengerjakan PR-nya. Ratna sudah pulang saat ia mencuci baju.

Sore harinya, Bea teringat baju baru yang tadi dicucinya. Ia pun pergi ke tempat jemuran, hendak mengambil bajunya. Namun Bea sangat terkejut. Baju barunya itu tidak ada di jemuran. Ia mencoba mencari diantara baju-baju lainnya, yang juga di gantung di jemuran. Tapi baju barunya tidak ada. Ia pun mencari di tanah sekitarnya, barangkali bajunya jatuh tertiup angin. Tapi Bea tidak menemukan apa-apa. Ia termenung. Pikiran buruk mulai melintas di otaknya.

“Pasti ada yang telah mencuri baju baruku. Tapi siapa ya?” pikir Bea.

“Oh, aku tahu, pasti Ratna. Pasti dia yang telah mengambil baju baruku. Tadi dia menyuruhku mencuci baju. Pasti itu dilakukannya, agar dua bisa dengan mudah mengambil baju baruku. Aku harus ke rumahnya sekarang,” kata Bea sambil beranjak pergi ke rumah Ratna.

“Ratna, pasti kau telah mencuri baju baruku! Ayo kembalikan!” tuding Bea begitu sampai di rumah Ratna. Saat itu Ratna baru saja pulang les.

“Lho … lho … lho … ada apa ini? Datang-datang kok langsung marah-marah,” kata Ratna bingung.

“Ayo, mengaku saja! Tadi kau menyuruhku mencuci baju baruku. Sekarang baju itu hilang dari jemuran. Pasti kau yang telah mencurinya!” kata Bea uring-uringan.

“Sabar Non, kok seenaknya saja nuduh orang. Apa buktinya kalau aku yang mencuri bajumu?” kata Ratna ikut sewot.

“Memang aku tidak punya bukti. Tapi akan kucari baju itu di rumahmu. Aku yakin pasti aku temukan!” kata Bea dengan menyelonong masuk dan menggeledah rumah Ratna.

Ratna agak tersinggung dengan sikap Bea yang tidak sopan itu. Ia bermaksud mencegah Bea masuk ke kamarnya. Tapi, di ruang tengah Bea berhenti. Diperhatikannya sebuah mesin jahit yang ada di sudut ruangan. Sebenarnya bukan mesin jahit itu yang menarik hatinya. Tapi sebuah baju di atas mesin jahit itu.

Bea mendekati mesin jahit tersebut. Di pungutnya baju yang ada di atasnya, lalu diamatinya baju itu. Bea yakin kalau baju itu adalah baju barunya yang hilang.

“Nah, benarkan apa yang kubilang? Ternyata bajuku memang ada di rumahmu. Sekarang sudah jelas kalau kau mencuri bajuku!” kata Bea dengan keras. Sementara Ratna melongo. Ia tidak mengerti bagaimana baju Bea tiba-tiba bisa ada di rumahnya.

“Tapi … tapi … aduh … aku tidak mengerti. Aku tidak mengambil bajumu,” kata Ratna kebingungan.

“Tapi semuanya sudah jelas. Bajuku hilang dan ternyata bajuku ada di rumahmu. Sudah jelas kau-lah yang mengambilnya,” kata Bea tetap saja menuduh Ratna.

“Eh … ada apa kok ribut-ribut?” tanya Bu Nia, ibu Bea muncul dari dapur. Di belakangnya Bu Ratih mengikutinya.

“Ini, Bu. Ratna telah mencuri baju baruku. Bajuku kan tadi kucuci. Saat akan kuambil dari jemuran, ternyata bajuku sudah tidak ada. Saat ku cari di rumah Ratna, ternyata baju baruku ketemu. Jadi pasti Ratna yang telah mencurinya,” kata Bea dengan bersungguh-sungguh. Ia berharap ibunya akan mengadu pada Bu Ratih dan kemudian Bu Ratih memarahi Ratna. Tapi ternyata yang terjadi justru sebaliknya.

“Bea jangan sembarangan menuduh orang. Itu tidak baik!” kata Bu Nia keras.

“Tapi bu, Bea tidak menuduh. Semuanya kan sudah jelas!” kata Bea masih bersikeras.

“Sudah jelas? Sudah jelas apanya? Dengar Bea. Bukan Ratna yang mengambil baju barumu. Tapi ibu yang telah mengambilnya dari jemuran.”

Bea terkejut sekali. Ia sama sekali tidak mengerti maksud ibunya.

“Tadi ibu tidak sengaja melihat bajumu di jemuran. Saat ibu dekati, ternyata ada rendanya yang sobek. Mungkin kau terlalu keras mencucinya, atau mungkin tersangkut di kawat jemuran. Karena ibu memang mau ke rumah Bu Ratih, jadi ya sekalian saja ibu bawa bajumu, agar dijahit kembali oleh Bu Ratih,” kata Ibu Bea menjelaskan panjang lebar.

“Jadi … jadi …,” kata Bea tertunduk malu. Ratna pun tersenyum-senyum, melihat Ratna yang menyadari kekeliruannya.

“Aduh Ratna, maafkan aku ya! aku telah menuduhmu. Aku memang jahat. Maafkan aku ya!” kata Bea akhirnya. Ia benar-benar malu.

“Makanya jangan asal suka menuduh orang. Kalau salah kan kamu juga yang malu,” kata Ratna sambil tersenyum. Bagaimana pun Ratna bukan anak yang suka pendendam.

“Aduh … Bea, kamu ini bikin malu ibu saja. Bu Ratih, Ratna, maafkan Bea ya! Bea ini memang bandel,” Bu Nia ikut-ikutan sungkan.

Bu Ratih mengangguk sambil tersenyum.

“Ibu juga sih, nggak bilang-bilang kalau baju Bea mau diperbaiki. Jadi kan Bea bingung,” Bea merajuk pada ibunya.

“Sudahlah, yang penting kamu jangan sembarangan lagi menuduh orang. Teliti dulu kebenarannya,” kata Ratna sambil menepuk pundak Bea.

Bea pun tersenyum. Ia merasa senang karena Ratna mau memaafkannya. Bagi Bea, Ratna memang sahabat yang terbaik. Ia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan asal menuduh orang lagi. @@@

 

 

Mentari, Edisi – Tahun –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s