Dongeng

Putri Buruk Rupa

Putri Berambut Kaca - Semua Halaman - Bobo

Alangkah bahagianya Raja, ketika permaisuri melahirkan seorang bayi perempuan yang mungil. Hadirnya buah hati ini, telah ditunggunya selama tujuh tahun. Seluruh penduduk kerajaan ikut bahagia, karena calon penerus tahta kerajaan telah lahir. Raja memberi nama buah hatinya, Putri Melati.

Raja amat menyayangi Putri Melati. Apa pun yang diinginkan sang putri, selalu dipenuhi. Begitu pula permaisuri, sangat menyayangi putrinya. Beliau bahkan rela mengasuh sendiri Putri Melati, tanpa bantuan inang.

Usia delapan tahun, Putri Melati belum juga menunjukkan kecantikannya. Bahkan wajahnya tidak menarik dan berkulit hitam. Keadaan ini membuat Raja menjadi risau. Beliau sangat malu, melihat keadaan putrinya. Bagaimana pendapat rakyatnya nanti? Rakyatnya akan berpendapat, bahwa Putri Melati tidaklah secantik putri-putri Raja, pada umumnya.

Semakin hari, Raja semakin tersiksa. Raja menyampaikan kepada Permaisuri, akan membuang Putri ke hutan. Anggapan Raja, bila Putri Melati, tetap berada di istana, maka akan membawa aib kemudian hari. Permaisuri terperanjat dengan usul suaminya.

Pemaisuri pun menangis sedih. Ia tidak tega, harus membuang putri satu-satunya, yang selama ini sangat dia sayangi. Meski pun Putri Melati tidak cantik, tapi Permasuri bersikeras untuk merawatnya di istana. Tetapi Raja tetap bersikeras untuk membuang Putri Melati. Bila niatnya dihalangi, Raja tidak segan-segan membunuh Putri Melati.

Pemaisuri amat sedih. Ia terpaksa merelakan Putri Melati dibawa pengawal kerajaan, untuk dibuang ke hutan. Namun sebelumnya, Permaisuri menyuruh salah satu inang, agar mengikuti para pengawal kerajaan itu dan memungut Putri Melati. Permaisuri berpesan, agar Putri Melati dirawat dengan baik, dengan membuat rumah kecil di sekitar hutan. Tidak lupa, Permaisuri membawakan perbekalan secukupnya.

Setelah Putri Melati tidak ada lagi di kerajaan, hari-hari Permaisuri selalu dirundung kesedihan. Setiap saat, dia selalu termenung dan menatap dengan pandangan kosong, ke arah hutan. Namun, tidak demikian dengan Raja, yang merasa tenang. Karena merasa telah membuang aib. Anggapan Raja, lebih baik membuang Putri Melati dengan harapan akan lahir putri-putri yang cantik. Tetapi, putri yang dinantikan tidak kunjung tiba. Tujuh tahun telah berlalu, tetapi Permaisuri belum ada tanda-tanda memiliki anak lagi. Raja menjadi gelisah dan banyak termenung.

Hingga suatu hari, Raja memutuskan untuk berburu ke hutan untuk menghilangkan rasa gelisah. Mungkin karena lama tidak berburu, Raja dan dua pengawalnya kebingungan mencari jalan keluar. Akhirnya, ketiganya kelelahan dan beristirahat di bawah pohon besar. Alangkah terperanjatnya sang Raja, karena selendang kerajaan yang biasa ada di pundaknya, telah hilang dan tidak juga diketemukan. Raja pun pasrah. Padahal, sebenarnya beliau sangat menyukai selendang itu. Selain karena sebagai simbol kerajaan, selendang itu sangat mahal harganya. Dengan badan yang letih dan perasaan kecewa serta bingung Raja menyandarkan tubuhnya, pada sebuah pohon.

Tiba-tiba dihadapannya telah berdiri seorang gadis, yang membawa selendang kerajaan dan sekeranjang buah. Raja terperanjat melihat selendang itu.

“Tuan, ini selendang Tuan, yang jatuh di sana,” ujar si Gadis, sambil menunjuk ke semak-semak, tempat jatuhnya selendang itu.

“Tadi saya berusaha mengejar, tapi kuda Tuan cepat sekali larinya. Mungkin tuan lelah, ini saya bawakan sekeranjang buah. Tuan bisa singgah dulu di gubuk saya,” kata Gadis itu melanjutkan ucapannya. Ia tidak tahu bahwa yang dihadapannya adalah seorang Raja dan juga ayahnya sendiri. Raja sangat terkesan, dengan kebaikan Gadis itu.

“Sungguh mulia hatimu, Gadis. Selendang semahal ini tidak kamu ambil dan kamu jual. Siapakah orang tuamu yang telah mengajari, menjadi orang baik?” puji Raja. Gadis itu tersipu.

“Bukan orang tua saya yang mengajari kebaikan, tetapi seorang inang yang baik hati,” jawab si Gadis. Raja pun terperanjat mendengarnya.

“Inang?” tanya Raja dengan penuh rasa penasaran.

“Ya. Seorang inang yang memungut saya. Pada usia delapan tahun, saya dibuang oleh ayah kandung saya. Ia seorang Raja yang perkasa. Ia sangat malu, memiliki seorang putri yang buruk rupa. Tetapi berkat kebaikan Permaisuri, saya akhirnya di rawat oleh seorang inang. Meski wajah saya tetap buruk rupa, tetapi saya diajari untuk menjadi orang yang berguna,” ucap Gadis itu yang tidak lain adalah Putri Melati. Ia bercerita dengan pandangan menerawang jauh.

Raja kaget bukan kepalang ketika mendengar cerita Gadis itu. Beliau menangis dan memeluk sang Gadis yang tidak lain adalah Putri Melati, putri kandungnya sendiri. Akhirnya Raja sangat menyesal. Penyesalan Raja yang amat dalam. @@@

Mentari Edisi – Tahun –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s