Cerita Anak

Anak Lelaki di Kali Bengawan

pic. by google

Satu minggu sudah Tikno tidak masuk sekolah. Belum pernah dia tidak masuk sekolah selama ini. Sejak neneknya meninggal seminggu lalu sampai saat ini, dia tidak pernah mengikuti pelajaran. Tanpa keterangan pula.

Tikno adalah anak baru di sekolah ini. Meski baru empat bulan, sudah terlihat kalau dia berprestasi bagus. Ia juga suka menolong sahabatnya, yang mengalami kesulitan, dalam pelajaran. Tidak ada Tikno selama seminggu di kelas, membuat kelas ini terasa tidak lengkap.

Semua saling bertanya, kemana Tikno? Tapi, tidak ada yang bisa memberi jawaban pasti.
Wati ingat, saat semua rekannya tidak bisa mengerjakan soal Matematika. Tikno-lah yang tampil menyelesaikannya dengan tangkas. tadi ada dua soal Matematika, yang tidak bisa dijawabnya. Andai Tikno ada di belakangnya, tugas kelompok dengan cepat akan terselesaikan. Dua soal matematika itu, akhirnya dijadikan PR. Meski jumlahnya hanya dua, tingkat kesulitannya lumayan juga.

“Kita harus menjenguk Tikno, ada yang tahu rumahnya?” tanya Wati. Sebagai ketua kelas, ia perlu mengambil inisiatif meski agak terlambat.

Dalam hati, Wati merasa malu. Dirinya mengaku sebagai sahabat, namun rumah Tikno saja tidak tahu. Keterlaluan, Kan? Alamat rumah Tikno, sampai saat ini tetap jadi misteri.

Mungkin saja Tikno rumahnya jauh. Sebab setiap kali datang ke sekolah, bajunya sudah basah oleh keringat. Tentu dia menggenjot sepeda dalam jarak yang jauh. Sepeda yang dinaikinya pun unik. Tidak ada spakbor di atas bannya. Hingga genangan air hujan akan mengotori punggungnya. Pernah ia datang ke sekolah, dengan baju putih yang belepotan kotoran. Tapi, satu hal yang dicatat oleh Wati, Tikno tidak pernah terlambat sekolah. Ia akan menemui Pak Niyadi, wali kelasnya untuk menanyakan alamat Tikno.

Setelah alamat di dapat, maka pada suatu sore, tiga anak menjenguk Tikno. Tiga anak itu adalah Wati, Ivon dan Nana. Sambil menghirup udara sore yang segar, mereka bersepeda mini dengan santai. Hampir 45 menit, mereka bersepeda. Ada sungai Bengawan Solo lewat diatas jembatan, terus ke kiri kira-kira 100 meter. Ada tiga lorong, masuk rumah nomor 6 berpagar kayu, yang ada pohon jambunya. Petunjuk yang pas. Namun rumah itu tampak sepi.

“Kemana harus mencari?” tanya Wati pada kedua temannya. Mereka pun tidak lebih tahu.
Tiba-tiba seorang laki-laki tua lewat. Mungkin tetangga Tikno. “Teman-temannya Tikno, ya?” katanya.

Wati dan kedua sahabatnya menganggukkan kepala.

“Tikno masih di sungai Bengawan, ikuti saja jalan kecil ini, kalian pasti akan bertemu dengannya,” kata laki-laki tua itu.

Wati dan kedua temannya tidak mau membuang waktu lagi. Setelah mengunci sepeda, ketiganya berjalan setengah tergesa menuju lokasi yang ditunjukkan oleh laki-laki tua itu tadi. Jalan setapak yang sempit mereka lewati dengan cepat. Sampai akhirnya mereka tiba di bibir sungai Bengawan.

Tampak sebuah perahu yang berisi pasir, tapi tidak ada orangnya. Mungkin orangnya tengah menyelam. Tidak lama kemudian, dua orang muncul dari dalam air. Satu orang desa, yang satunya … Ya, benar itu dia. Wati dan kedua temannya yakin, anak lelaki yang bertelanjang dada itu adalah Tikno, teman yang selama ini mereka kenal.

“Tikno …!” teriak Nana tidak bisa menahan diri memanggil. Anak lelaki itu menoleh, mencari asal suara. Lalu tangannya melambai ke arah mereka. Ia segera berenang ke tepian.

Benar yang dikatan orang tua tadi. Tikno ada di sini. Tikno segera menyalami para sahabatnya. Kemudian Tikno mengambil kaosnya. Mereka saling pandang sesaat.

“Maaf, aku tidak bisa bersekolah lagi. Sejak Nenek tidak ada, aku hanya ikut membantu tetanggaku mengambil pasir, di Bengawan ini. Apalagi, orang tuaku juga sudah tidak memiliki biaya lagi,” kata Tikno langsung angkat bicata. Terdengar kesedihan terpancar dari wajahnya.

Mereka memandang Tikno tanpa suara. Seminggu tidak bersekolah, Tikno ternyata mencari pasir di sini. Suasana jadi kaku. Wati tidak tahu bantuan apa yang bisa diberikan pada Tikno, agar bisa bersekolah lagi. Ivon dan Nana juga mengalami kesulitan yang sama.

“Tikno, kamu tetap bisa bersekolah, biar Bapak yang membiayai hidup dan sekolahmu,” kata Pak Niyadi yang tahu-tahu sudah berada di belakang mereka. Ternyata wali kelas mereka membuntuti dari belakang, tanpa setahu Wati dan teman-temannya. Beliau juga sempat menguping pembicaraan mereka dari balik gubuk kecil.

“Kamu tidak usah mencari pasir di sungai Bengawan ini lagi,” pinta Pak Niyadi. Mata Tikno nanar bahagia. Ternyata, masih ada orang baik di dunia ini.

Sore berganti senja, ketika lima orang itu meninggalkan sungai Bengawan. Mereka berjalan dengan langkah ringan. Seringan hati mereka. @@@

Majalah Mentari Edisi –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s