Cerita Anak

Ruli dan Penarik Rakit Buta

35+ Terbaik Untuk Gambar Bambu Untuk Makanan Bangau Kartun | Soho Blog's
pic. from google

Desa itu terpencil dan berada di tepi hutan. Letaknya dipisahkan sungai yang lebar, dengan desa-desa lainnya. Jika penduduknya ingin pergi ke desa lain, harus menyeberangi sungai terlebih dahulu.

Untungnya ada rakit yang setiap hari mengantar penduduk pulang pergi, menyeberangi sungai. Rakit itu terbuat dari gelondongan kayu. Panjang dan lebarnya kurang lebih 5 meter x 6 meter. Agar tidak terseret arus sungai yang deras dan agar lebih mudah dikemudikan, rakit itu diikatkan pada sebuah tambang yang panjang dan besar. Tambang itu terentang membelah sungai.

Entah siapa yang membuat rakit tersebut. Mereka hanya mengenal sang penarik rakit, yang selama puluhan tahun membantu penduduk, menyeberangi sungai. Penarik itu seorang laki-laki tua yang buta kedua matanya. Dia tidak pernah menarik ongkos, pada orang-orang yang diseberangkannya. Tapi semua orang tidak pernah lupa, untuk menyelipkan uang beberapa ribu rupiah, di tangan penarik rakit. Setiap kali mereka selesai diseberangkan.

Ruli yang sekolahnya berada di seberang sungai, setiap hari juga di seberangkan oleh penarik rakit buta itu. Namun, dia tidak pernah menyelipkan uang, ditangan penarik rakit. Padahal, setiap hari ibunya selalu membekali uang untuk membayar ongkos rakit, selain uang jajan biasa.

Ruli lebih senang memakai uang pemberian ibunya itu, untuk jajan semuanya. Dia pikir, penarik rakit itu pasti tidak akan tahu, kalau setiap hari dia menumpang rakitnya. Ruli selalu menunggu kesempatan yang baik, saat naik atau turun dari rakit. Ruli baru naik saat rakit terisi penuh oleh penumpang. Waktu turun, dia menunggu semua penumpang selesai membayar dan meninggalkan rakit. Dengan begitu, tidak ada yang tahu kalau dia tidak membayar. Dirinya tidak sampai dicaci maki, karena telah tega menguras tenaga orang buta tanpa imbalan.

Suatu siang, sepulang sekolah seperti biasa Ruli berdiri di tepi sungai, menunggu rakit penuh dan siap untuk diseberangkan. Tidak terlalu lama dia menunggu, karena beberapa menit kemudian telah datang empat orang wanita, membawa barang-barang belanjaan. Di susul seorang laki-laki yang menuntun empat ekor kambing, yang gemuk dan besar. Setelah mereka naik, Ruli pun ikut menyusul.

“Sudah penuh, Pak,” kata laki-laki yang menuntun kambing, pada penarik rakit. Maka, bergeraklah rakit menyeberangi sungai.

Ruli yang semula berdiri di pinggir rakit, saat rakit berjalan, ia ganti duduk berjongkok, memperhatikan riak-riak air. Pikirannya melayang, teringat akan kemarahan gurunya tadi, karena dia tidak mengerjakan PR-nya.
Ketika rakit berada di tengah sungai, tanpa diduga, ada seekor kambing yang menendangkan kakinya ke belakang, tepat mengenai punggung Ruli. Tendangan yang keras itu, membuat Ruli kehilangan keseimbangan dan tercebur ke sungai!

“Tolong … tolong …!” Ruli berteriak-teriak, membuat penarik rakit menghentikan laju rakitnya. Orang-orang yang hendak menyeberang, tampak kebingungan.
Sebenarnya Ruli bisa berenang. Namun karena saat itu dia mengenakan sepatu, ditambah dengan derasnya arus sungai, menjadikannya timbul tenggelam di dalam air.

Untung penarik rakit segera menolongnya. Meski kedua matanya buta, laki-laki tua itu begitu tangkas berenang. Tanpa takut, dia berenang membelah sungai, menghampiri suara Ruli yang berteriak minta tolong dan menyeret tubuh anak itu menuju rakit.

Di atas rakit, Ruli mengucapkan terima kasih. Penarik rakit itu hanya tersenyum menanggapinya, sambil meneruskan kembali menjalankan rakitnya.

Sesampainya di seberang, semua penumpang turun. Begitu juga dengan Ruli. Hanya saja kali ini dia tidak langsung pergi. Uang pemberian ibu yang belum sempat dipakai jajan, dia selipkan ke tangan penarik rakit, sambil mengucapkan terima kasih untuk yang kedua kali. Tapi, baru beberapa langkah, penarik rakit sudah memanggilnya kembali.

“Apakah ini penggarismu?” tanya penarik rakit, setelah mengeluarkan sebuah penggaris plastik, dari balik bajunya.

“Benar, Pak,” jawab Ruli setelah memeriksa penggaris itu.

“Bapak menemukannya kemarin, saat terjatuh dari tasmu. Sebenarnya Bapak mau mengingatkan. Tapi kamu keburu pergi.”

“Bapak bisa mendengar jatuhnya penggaris yang tipis ini?”

“Daun yang jatuh dari pohon pun, bapak bisa mendengarkan. Mata Bapak memang buta tapi telinga Bapak jauh lebih tajam dibanding kamu atau orang-orang yang kedua matanya sempurna.”

“Bapak … Bapak juga tahu kalau setiap hari saya naik rakit ini,” dengan terbata-bata Ruli bertanya.

“Suara tapak kakimu yang jatuh di rakit, jauh lebih keras dibanding suara daun yang jatuh ke tanah.”

“Tapi … tapi kenapa Bapak tidak menarik ongkos pada saya?”

“Bapak tidak mau menerima uang, dari orang-orang yang tidak ikhlas memberikannya.”
Ruli malu sekali mendengar kalimat yang diucapkan penarik rakit itu. Setelah terlebih dahulu meminta maaf atas kelakuannya yang kurang baik selama ini, Ruli berjalan meninggalkan penarik rakit buta.

Esok harinya dan hari-hari selanjutnya, setiap kali menyeberangi sungai, Ruli tidak pernah lupa menyelipkan uang di tangan penarik rakit buta itu. @@@

Majalah Mentari

Edisi – Tahun –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s