Fabel

Kisah Kerbau dan Sapi

Hasil gambar untuk gambar kartun kerbau dan sapi

Di sebuah rumah petani, hidup seeor sapi dan kerbau. Kedua binatang itu adalah ternak petani yang bernama Pak Jani. Kerbau dan sapi hidup dalam satu kandang. Keduanya adalah hewan peliharaan baru Pak Jani.

Pak Jani sebenarnya bukan petani. Dulu ia adalah seorang pedagang. Namun karena selalu merugi, ia mencoba bertani. Ia sudah punya sawah, lalu membeli kerbau dan sapi itu.

Pak Jani selalu melepaskan dua binatang itu di pagi hari. Di halaman rumahnya yang banyak sekali rumput. Jadi Pak Jani tidak tidak perlu repot mencarikan rumput.

Sapi itu tidak pernah bekerja seperti kerbau. Ia hanya diberi makan di disuruh tidur oleh Pak Jani. Sedangkan kerbau selalu disuruh bekerja. Pagi hari usai makan, kerbau dipaksa untuk menarik pedati. Jika ia tidak mau, maka cambuk Pak Jani mengenai pantatnya. Karena itu, kerbau selalu patuh.

Sore harinya, kerbau dipaksa menarik bajak sawah. Seperti menarik pedati, Pak Jani selalu memaksanya bekerja dengan cambuk.

Hampir setiap hari kerbau bekerja keras. Ia sangat iri dengan sapi yang selalu didiamkan Pak Jani. Pak Jani memandikan sapi dua hari sekali. Tapi ia memandikan kerbau seminggu sekali. Itu pun jika Pak Jani ingat. Kerbau sedih sekali. Apalagi ia juga harus mendengar ejekan sapi.

“Hei hewan bodoh. Kau itu dilahirkan untuk bekerja. Jadi bekerja saja atau kau dicambuk,” ejek sapi pada suatu pagi, saat sedang makan.

Kerbau jadi kehilangan nafsu makan. Ia kini benar-benar sangat sedih.

Siang harinya, seperti biasa kerbau dipaksa menarik pedati. Kerbau kini pasrah. Ia memilih dicambuk daripada dianggap bodoh. Apalagi ia tadi tidak cukup banyak makan rumput. Jadi, ia merasa tidak punya tenaga sama sekali.

Pak Jani telah mencambuk kerbau beberapa kali. Tetapi kerbau tetap tidak mau berdiri. Pak Jani berhenti mencambuk. Ia mengerti kerbaunya dalam keadaan sakit. Pak Jani pun membiarkan kerbau itu tidur.

Pak Jani kemudian menarik sapi keluar kandang. Melihat itu kerbau heran. Apakah Pak Jani akan menggunakan sapi untuk menarik pedati? Kerbau tidak tahu jawabannya. Ia hanya melihat Pak Jani menuntun sapi pergi menuju kota.

Seekor burung jalak uret tiba-tiba hinggap di badan kerbau.

“Hei, apa yang kau lakukan?” tanya kerbau pada burung jalak uret itu terkejut.

“Tenanglah, aku hanya akan memakan kutu di badanmu. Kau merasa gatal karena kutu-kutu ini, kan?” jawab burung jalak uret, sambil memakan seekor kutu.

“Terima kasih teman,” ujar kerbau tidak bersemangat.

“Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, kerbau. Kau masih iri dan sakit hati dengan sapi bukan?”

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya kerbau keheranan.

“Sebenarnya aku bukan burung biasa. Aku adalah burung utusan Dewa,” jelas burung itu.

“Ha … ha … kau pandai melawak juga, burung,” kerbau tertawa mendengar penjelasan burung itu.

“Aku tidak sedang melawak, kerbau. Aku bisa mengubah hidupmu dengan dua permintaan. Sebutkanlah apa permintaanmu! Boleh apa saja yang kau inginkan!” tutur burung jalak uret serius.

Kerbau masih tidak percaya dengan burung itu. Namun ia berpikir apa salahnya jika ia mencoba menuruti kata burung.

“Baiklah, burung. Permintaan pertamaku, aku ingin menjadi sapi dan sapi itu menjadi aku!”

Sekejap kemudian, kerbau berubah menjadi sapi. Sapi itu melihat kerbau di luar kandang sedang menarik pedati. Sapi yang dulunya kerbau itu melihat dirinya benar-benar menjadi seekor sapi. Ia berloncatan gembira. Hore … kini aku menjadi sapi.

Pekerjaanku hanya makan, minum dan tidur. “Rasakan pekerjaan berat itu, sapi!” teriak sapi girang.

Saat makan pagi bersama, sapi juga mengejek kerbau. Ia merasa puas, karena telah membalas ejekan sapi dulu.

Waktu berjalan begitu cepat bagi sapi. Siang ini, ia melihat kerbau tidak mau diajak Pak Jani menarik pedati. Pak Jani mencambuk kerbau beberapa kali. Tetapi kerbau tetap tidak mau. Sapi jadi teringat kejadian itu. Kejadian itu sama persis seperti yang ia alami dulu, sebelum menjadi sapi.

Tidak lama kemudian, Pak Jani memasuki kandang. Pak Jani memaksa sapi keluar dari kandang. Sapi hanya pasrah dibawa oleh Pak Jani. Dulu ia bertanya-tanya kemana Pak Jani membawa sapi. Sekarang ia akan tahu hal tersebut, sebab dirinya kini seekor sapi.
Pak Jani berhenti menuntun sapi di suatu tempat. Sapi terkejut melihat ada banyak sapi dan orang di tempat itu. Ia lebih terkejut lagi, ketika melihat dan mendengar lenguhan sapi kesakitan.

“Astaga, manusia itu menyembelih sapi-sapi itu. Apa maksudnya aku dibawa ke sini? Apa aku juga akan disembelih? Oh tidak, jika tahu begini, aku lebih baik memilih jadi kerbau,” batin sapi ketakutan.

“Wahai burung, tolong aku. Aku ingin permintaan kedua. Kembalikan aku jadi kerbau. Aku ingin menjadi kerbau,” jerit sapi ketakutan. Seketika itu permintaan sapi terwujud. Sapi kembali berubah menjadi kerbau.

Kerbau yang pernah menjadi sapi menoleh pada burung jalak uret, yang masih diatas tubuhnya.

“Bagaimana? Apa kau senang menjadi sapi?” kata burung itu penuh senyum. “Apa kau mau disembelih seperti sapi? Dagingmu akan dicincang dan dimakan. Kulitmu akan dijadikan kerupuk atau sepatu manusia. Bagaimana, apa kau mau berubah lagi?” tanya burung jalak uret lagi.

Kerbau masih berkeringat dingin ketakutan. Kini ia tahu rasanya menjadi sapi. Pak Jani membiarkan sapi itu tidak bergerak supaya gemuk. Setelah gemuk, sapi akan dijadikan makanan manusia. Hiii … kerbau menjadi ngeri. Ia berjanji tidak akan iri lagi. @@@

 

 

Mentari, Edisi 320 Tahun 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s