Abunawas

Susahnya Menduduki Tahta

Bolebo sebenarnya bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang pengangguran yang suka membual. Tapi omongannya yang pedas membuat banyak orang merasa sebal kepadanya.

Sepanjang kesempatan, Balebo selalu mengecam banyak orang. Dia mencerca para menteri, kadi, pengawal kerajaan, dan pejabat-pejabat negeri yang lainnya. Di mata Balebo, semua pejabat negeri tidak ada yang becus bekerja. Tapi selama ini orang-orang tidak ada yang menanggapinya.

Tapi belakangan ini, Balebo semakin lepas kendali. Dia mulai berani mengecam Baginda Harun Alrasyid. Orang-orang yang mendengarnya mulai merasa gerah. “Apa susahnya menjadi seorang raja?!” begitu bualnya di depan orang-orang. “Semua kebutuhannya tercukupi dan tinggal perintah sana serta perintah sini!” orang-orang yang mendengar bualan Balebo terkesima. Mereka terperangah dengan keberanian seorang hamba seperti itu.

“Aku pun sebenarnya bisa kalau hanya berbuat seperti itu,” bualan Balebo semakin menjadi-jadi. “Sebenarnya kalau sudah diberi fasilitas seperti itu, harusnya benar-benar bekerja untuk mensejahterakan rakyat. Raja jangan seenaknya sendiri. Tapi nyatanya sekarang?” lanjut Balebo semakin berapi-api.

Orang-orang yang mendengar celoteh Balebo sebenarnya ingin membantah pernyataan Balebo. Tapi mereka mengurungkan niatnya. “Percuma berbicara dengan orang blo-on seperti itu. Tidak ada gunanya!” begitu kata mereka.

“Tapi orang seperti dia perlu diberi pelajaran. Biar tidak omong seenaknya,” bantah yang lain.

“Memangnya jadi raja itu gampang?”

“lya, tapi bagaimana caranya?”

“Kalau begitu, kita minta tolong Abunawas saja. Biar Balebo mati kutu dibuatnya!” tiba-tiba ada seseorang yang usul.

“Betul. Kita minta bantuan Abunawas saja! Karena kalau kita yang mengajak berdebat, pasti nggak nyambung. Wong dia nggak bisa diajak bicara secara logika. Maklum, otaknya kurang waras!”

Akhirnya orang-orang sepakat menemui Abunawas. Setelah bertemu, orang-orang menceritakan semua kejadian yang mereka alami barusan. Mereka semua ingin memberi pelajaran pada Balebo.

“Kalau masalah itu mah, gampang,” sambut Abunawas tatkala memberi tanggapan pada orang-orang yang menemuinya.

“Dia tidak bisa di­ajak bicara secara logika. Dia harus diberi contoh nyata.”

“Iya, tapi bagaimana caranya?” desak orang-orang.

“Sudahlah, serahkan semua padaku. Kalian tinggal terima matangnya saja,” janji Abunawas.

Setelah orang-orang pulang, Abunawas menemui Balebo. Abunawas mengajak Balebo menemui Baginda di istana.

“Siapa takut?!” tantang Balebo.

“Bahkan ini yang kutunggu-tunggu. Aku ingin katakan pada Baginda, ja­ngan seenaknya sendiri menjadi raja.”

Abunawas hanya tersenyum simpul mendengar celoteh Balebo. “Nanti rasakan sendiri akibatnya!” gumam Abunawas dalam hati.

Abunawas tahu persis, saat-saat seperti ini, Baginda mesti tengah beristirahat siang di kamarnya. Ruang Balairung pasti kosong melompong. Saat seperti ini memang tengah ditunggu-tunggu Abunawas, untuk memberi pelajaran pada Balebo.

Sampai di istana, Abunawas langsung mengajak Balebo masuk ke dalam Balairung. Karena Baginda tidak berada di atas singgsana, Balebo bertanya-tanya.

“Mana Baginda? Percuma kita ke sini kalau Baginda tidak ada,” kecamnya.

“Sabar, tunggu dulu, pasti Baginda akan menemui kita,” jebak Abunawas.

“Duduklah dulu sambil menunggu Baginda.”

Karena blo’onnya, Balebo tidak merasa kalau tengah dijebak Abunawas. Dia langsung duduk di atas singgasana Baginda. Melihat pemandangan yang ganjil itu, pengawal kera­jaan langsung sigap. Mereka mendatangi Balebo dan memukulinya beramai-ramai.

“Siapa kamu?! Berani-beraninya duduk di atas singgasana!” ben­tak pengawal kera­jaan dengan kasar. Dengan muka babak belur. Balebo diseret keluar istana. Balebo hanya bisa merintih kesakitan. “Bagaimana rasanya? Enak bukan?” tiba-tiba Abunawas sudah berada di hadapan Balebo.

“Enak apanya?! Mukaku hancur begini gara-gara kamu!” umpat Balebo kesal.

”Sekarang kamu baru tahu rasanya. Belum ada lima menit kau duduk di atas singgsana, kau sudah merasa tersiksa. Apalagi yang bertahun-tahun duduk di sana. Bagaimana Masih berpikir menjadi raja itu enak?” sindir Abunawas.

Balebo terdiam. Dia tidak bisa berkutik di depan Abunawas. Mulutnya yang biasanya suka mengecam, kali ini tertutup rapat tanpa bicara sama sekali! @@@

 

Sumber: Mentari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s