Cerita Misteri

Lukisan Bunga Tulip

Sampai dini hari, Kak Sam menunggu kedatangan Om Jalu, untuk meminta keterangan tentang lukisan yang baru datang dari Belanda. Konon, ada yang menganggap lukisan itu palsu! Celakanya, lukisan itu sekarang di simpan di Museum Nasional. Kak Sam belum bisa memberitakannya di Koran, sebelum tahu benar cerita sebenarnya, dari Om Jalu.

Pukul 02.30 dini hari, Om Jalu baru datang, lelaki berkumis tebal itu berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Kak Sam, yang mulai mengantuk.

“Sam … ini berita besar! Lukisan ‘Bunga Tulip’ dari Belanda itu hilang!” seru Om Jalu, dengan wajah tegang.

“H-hahh … padahal menurutmu lukisan itu palsu? Tapi kok …?”

Om Jalu menghela nafas panjang. “Iya … aku yakin benar lukisan itu palsu, karena mendiang Ardoven tak pernah melukis bunga … apalagi sedetail itu …,” ujar Om Jalu dengan nada perlahan.

“Terserahlah … tapi yang jelas, lukisan Ardoven sekarang hilang. Itu saja! Soal palsu atau tidak, itu soal nanti …,” tandas Kak Sam.

Esok hari, berita hilangnya lukisan karya pelukis Ardoven menggemparkan kota. Kak Sam melengkapi beritanya dengan foto lukisan ‘Bunga Tulip’ secara jelas dan tegas.

Siang harinya, telepon Kak Sam berdering, “Siapa bilang lukisan Ardoven hilang! Lukisan itu aman dan tak pernah pergi dari tempat asalnya!” kata seorang lelaki di ujung telepon.

“Maksud bapak apa?” buru Kak Sam penasaran.

“Ya … lukisan yang sekarang hilang adalah duplikatnya! Lukisan ‘Bunga Tulip’ karya Ardoven yang asli, adalah milik saya … dan sekarang masih tersimpan rapi, di galeri saya!” kata lelaki yang mengaku bernama Pak Hendri.

Menurut Om Jalu, sebenarnya Ardoven bukanlah pelukis ternama. Pada jamannya, dia malah lebih dikenal sebagai pengawal istana, yang bisu dan tuli. Ardoven senang sekali melukis pangeran dan putri, yang dulu pernah dikawalnya. Suatu ketika, dia dipercaya melukis permaisuri di kamar harta istana. Sebuah kehormatan besar bagi Ardoven, karena dia-lah satu-satunya pelukis yang dipercaya masuk kamar harta istana. Tragisnya, setelah lukisan permaisuri itu selesai dibuat, tersiar kabar yang menggemparkan. Kalung permaisuri berbandul intan biru, hilang! Ardoven dituduh sebagai pencurinya. Ia dikurung dalam tahanan, hampir sepanjang usianya. Anehnya, meski sudah dikurung, Ardoven tetap menyangkal tuduhan itu.

“Lukisan ‘Bunga Tulip’ itulah jawabannya. Ssst, asal kau tahu … lukisan itu sebebarnya adalah peta penyimpanan kalung yang hilang itu!” bisik Om Jalu pada Kak Sam.

Tiba-tiba, seorang lelaki tua datang menghampiri Kak Sam. Tubuhnya kurus dan terlihat sekali sebagai keuturunan Belanda.

“Saya Hendri, pemilik lukisan Ardoven yang asli!” sapa lelaki itu, sambil mengulurkan tangannya. Sejenak kemudian, Om Jalu dan Pak Hendri saling berdebat tentang lukisan Ardoven. “Saya ingin mengatakan yang sebenarnya. Tapi saya mohon, hal ini dirahasiakan. Karena merupakan rahasia besar yang tak terpecahkan, sampai sekarang,” kata Pak Hendri tiba-tiba. Om Jalu dan Kak Sam terdiam.

Pak Hendri kemudian mengajak mereka ke ruang galeri miliknya. Ah, itu lukisan ‘Bunga Tulip’! Kak Sam dan Om Jalu kontan langsung mengamati lukisan itu. Semua tampak sama persis, dengan lukisan yang dicuri itu, kecuali satu hal.

“Itulah yang sangat jelas membedakan! Ini sebuah rahasia besar. Warna biru langit yang tampak pada lukisan itu, sebenarnya adalah serbuk intan biru milik permaisuri. Ardoven memang mencurinya! Tapi dia tak bermaksud jahat. Justru ia ingin menyelamatkan permaisuri. Intan biru itu, sebenarnya mengandung racun yang sangat mematikan. Seorang musuh raja menyamar sebagai duta negara, kemudian memberi kado istimewa untuk permaisuri, sebuah kalung intan biru yang sangat cantik. Tapi, sebenarnya itu adalah taktik jahat musuh untuk meracuni permaisuri!”

Ardoven mengerjakan lukisan itu, di dalam penjara. Sengaja dia melukis bunga tulip, supaya tak ada orang yang mencurigainya. Ardoven menumbuk intan biru itu dan menorehkannya dalam lukisan. Beberapa jam setelah selesai melukis, Ardoven meninggal dunia, karena keracunan. Sahabat Ardoven berusaha menyelamatkan karya Ardoven yang luar biasa itu, dengan membuat tiruannya. Jadi, sebenarnya yang dicuri dari museum itu adalah lukisan tiruan, yang dibuat sahabat Ardoven!” tutur Pak Hendri.

Kini misteri lukisan Ardoven sudah terungkap. Pak Hendri rela menyerahkan lukisan Ardoven yang asli itu pada museum.

“Ha … ha … biar saja pencuri itu kesal. Lukisan itu kan palsu … biar tahu rasa dia. Peta harta karun itu tidak bakal ketemu, walau dicari sampai kapan pun, ha … ha …! @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s