Abunawas

Talang Mengarah Ke Halaman

Rumah Barodin bersebelahan dengan rumah Abunawas. Selama bertetangga, keduanya jarang akur. Selalu ada saja yang dipermasalahkan.

Dua hari yang lalu, Abunawas merasa kesal pada Barodin. Gara-garanya, Barodin membuat talang saluran air namun airnya jatuh mengarah ke halaman rumah Abunawas. Abunawas mencoba menegur baik-baik, tapi Barodin justru berkelit melecehkan Abunawas.

“Din, kalau buat talang mulutnya jangan diarahkan ke rumahku. Airnya jadi jatuh ke halaman rumahku. Sebaiknya kamu arahkan ke halaman rumahmu sendiri agar tidak mengganggu tetangga. Tidak sulit, kan?” tegur Abunawas dengan suara dibuat sesopan mungkin.

Namun teguran Abunawas tersebut ditanggapi dingin oleh Barodin. Dia menjawab dengan ogah-ogahan melecehkan Abunawas.

“Mengapa kamu seolah tidak terima dengan adanya talangku?” jawab Barodin sekenanya. “Bukankah seharusnya kau berterima kasih kepadaku? Gara-gara talangku mengarah ke halamanmu, kau tidak perlu repot-repot menyirami tanamanmu. Bukankah begitu Abu?”

Mendapat jawaban seperti itu, tentu saja Abunawas geram. Dia merasa disepelekan. Maksudnya bicara baik-baik dengan Barodin ternyata tidak sesuai dengan harapannya. Barodin benar-benar tidak bisa diajak hidup bertetangga secara baik.

“Ya sudah kalau itu maumu,” jawab Abunawas kesal. “Tapi kalau suatu saat aku membuat talang dan mulutnya mengarah ke halamanmu, kau jangan marah.”

Barodin tidak menjawab. Tapi dalam hati dia bersorak karena bisa mempermainkan Abunawas. Padahal Abunawas terkenal cerdik. Menurut perasaan Barodin, dihadapannya, Abunawas seolah dibuat mati kutu.

Abunawas mengalah ternyata bukan karena kalah akal. Dia tengah mencari cara agar bisa membalas Barodin dengan balasan yang lebih telak. Kalau dia ganti membuat talang mengarah ke halaman Barodin, itu cara yang tidak kreatif. Dia harus membalas dengan cara yang lebih cerdik.

Seharian Abunawas memutar otak mencari akal. Dia benar-benar sakit hari dan ingin membalas dendam pada Barodin. Setelah mengerahkan segenap pikirannya, Abunawas menemukan cara yang dianggapnya jitu. Abunawas yakin, dengan caranya ini, Barodin akan mati kutu dan tidak berani lagi main-main dengannya.

Sore hari, Abunawas sudah menunggu di atas loteng rumahnya. Dia berharap Barodin lewat depan rumahnya. Dan setelah menunggu beberapa saat, apa yang diharapkan Abunawas akhirnya kesampaian juga. Barodin berjalan melewati depan rumah Abunawas.

Begitu Barodin lewat depan rumah, Abunawas langsung mengguyur Barodin dengan seember air yang memang sudah dipersiapkan sejak tadi. Mendapat serangan mendadak tersebut, Barodin kalang kabut dan menjadi geram. Rambut dan pakaiannya basah kuyup tidak karuan. Dia pun berteriak memanggil Abunawas.

“Abunawas, turun! Apa maksudmu berbuat begini kepadaku? Apakah kau memang berniat mencari ribut?” kecam Barudin dengan muka merah penuh amarah.

Diteriaki begitu, Abunawas tidak surut. Dengan gagah berani dia turun untuk menghadapi Barodin.

“Apa maksudmu berbuat begini kepadaku?! Apakah kau memang berniat mencari ribut?” ujar Barudin mengulang pertanyaan, masih dengan muka merah penuh marah.

“Mendapat kecaman seperti itu, Abunawas menghadapinya dengan tenang. Dia meniru sikap Barodin saat ditegurnya dua hari yang lalu.

“Mengapa kau kelihatan geram kepadaku?” jawab Abunawas sekenanya, mengingatkan sikap Barodin yang ditunjukkan kepadanya dua hari yang lalu.

“Bukankah seharusnya kau berterima kasih kepadaku?” lanjut Abunawas lagi. “Gara-gara kusiram air satu ember, kau tidak perlu lagi mandi sore. Kau belum mandi, kan?”

Mendapat jawaban seperti itu, Barodin langsung terdiam seribu bahasa. Dia teringat sikap sekenanya yang ditunjukkan kepada Abunawas dua hari yang lalu. Kini dia mendapat balasan yang setimpal dari Abunawas. Bukan hanya setimpal, tapi rasanya lebih telak dibanding apa yang telah dilakukannya saat mempermainkan Abunawas.

Akhirnya, tanpa berkata sepatah kata pun. Barodin pergi meninggalkan Abunawas dengan muka merah padam menahan malu. @@@

 

Sumber: Mentari Edisi 368 Tahun 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s