Abunawas

Bila Abunawas Memetik Bintang

Apa jadinya bila manusia di suruh memetik bintang? Tentu pusing jadinya! Memangnya semudah memetik daun atau buah?

Tapi hal itu sungguh terjadi pada Abunawas. Dia diutus Baginda memetik bintang. Bagaimana caranya, Baginda Harun Alrasyid tidak mau tahu. Yang penting, bintang dapat dipersembahkan ke istana. Abunawas jadi pusing tujuh keliling.

“Sudahlah, Abu …,” desak Baginda. “Kalau kau berhasil melaksanakan tugas itu, hadiah besar sudah menantimu.”

“Tapi kalau gagal …?” sahut Abunawas cepat.

“Tentu hukuman penjara selama tiga bulan cukup pantas buatmu!” jawab Baginda tak kalah cepatnya.

Abunawas berpikir sejenak. Ia menguatkan segenap daya pikiran untuk melaksanakan tugas, yang diberikan Baginda. Dicarinya akal untuk melepaskan diri dari jeratan hukuman, yang bakal ditimpakan kepadanya.

“Kalau begitu hamba minta panjar dulu, Baginda,” pinta Abunawas.

“Buat apa?” tanya Baginda, “Kau tidak percaya padaku?”

“Bukan begitu, Baginda. Hamba perlu membeli peralatan untuk mencapai langit. Saat ini hamba tidak punya uang sama sekali. Masa hamba harus berhutang dulu?”

“Ya sudahlah kalau begitu,” kabul Baginda. “Tapi awas kalau kau gagal. Hukuman aku tambah dua kali lipat!”

Abunawas pulang membawa uang yang cukup banyak. Uang panjar yang diberikan Baginda lebih dari cukup, untuk membeli peralatan yang diinginkan. Sisanya, tentu saja, bisa untuk menambah uang belanja istrinya.

Di rumah, istrinya kaget tatkala Abunawas memberi uang cukup banyak. Istrinya sempat curiga uang itu dari hasil kejahatan, yang dilakukan suaminya. Tapi Abunawas memberi penjelasan yang cukup meyakinkan.

“Sudahlah, jangan khawatir. Uang itu halal. Uang itu murni pemberian Baginda. Kau jangan berpikir yang tidak-tidak!” beber Abunawas, sembari menceritakan pertemuannya dengan Baginda.

“Tugasmu nanti,” lanjut Abunawas, “Datang ke istana untuk mengadu kepada Baginda. Sembari berkata begitu Abunawas membisikkan segala segala sesuatu, yang telah direncanakannya,

Istrinya mengangguk-angguk tanda mengerti. “Kau ini bisa saja mengakali Baginda,” komentar istrinya sembari tertawa kecil.

Seminggu setelah kejadian itu, sambil meraung-raung istri Abunawas datang ke istana. Dia mengadukan ulah suaminya, yang dinilainya tidak waras.

“Gila! Suami hamba benar-benar gila! Baginda harus bertanggung jawab!” teriak istri Abunawas dihadapan Baginda. “Sejak bertemu dengan Baginda, dia melakukan sesuatu yang tidak wajar. Setiap hari, dari pagi sampai malam, dia meloncat-loncat dari kasur ke lantai. Begitu terus berulang-ulang, sampai dia capai dan ketiduran. Besoknya setelah bangun, hal itu diulanginya lagi. Setiap hamba tanya, dia tidak pernah menjawab. Sepertinya dia kemasukan roh halus.”

Baginda kebingungan dengan cerita istri Abunawas. Dia tidak mengerti betul, apa yang terjadi dengan Abunawas. Apa betul yang diceritakan istri Abunawas?

“Sudahlahh! Berhentilah berteriak-teriak seperti itu,” titah Baginda mencoba menenangkan hati istri Abunawas. “Sekarang juga aku akan ke sana, untuk melihat apa yang terjadi. Sekarang pulanglah dulu.”

Baginda Harun Alrasyid ternyata benar-benar memenuhi janjinya. Tak lama setelah istri Abunawas sampai di rumah, Baginda sudah ada di belakangnya. Dia langsung menuju ke kamar untuk menemui Abunawas.

Sampai di kamar, apa yang diceritakan istri Abunawas ternyata betul adanya. Abunawas meloncat-loncat dari ranjang ke lantai, begitu seterusnya. Baginda segera berteriak, untuk menghentikan perbuatan Abunawas.

“Abunawas …… berhenti!!! Apa yang kau lakukan!” bentak Baginda menggelegar bagaikan Guntur. Abunawas pura-pura kaget dan menghentikan kegiatannya.

“Maaf, Baginda. Hamba benar-benar tidak tahu kalau Baginda berada di sini,” ujar Abunawas berbasa-basi. “Apa ada yang bisa hamba lakukan untuk Baginda?”

“Tidak! Aku Cuma ingin tanya, mengapa kau lakukan tindakan yang tak wajar seperti itu? Istrimu sampai ketakutan dan mengadu kepadaku. Kau harus menjelaskan!”

“Hamba belajar terbang, Baginda. Hamba ingin bisa terbang seperti burung,” jawab Abunawas dengan mimik serius.

Mendengar jawaban itu, Baginda tertawa terbahak-bahak. Dia merasa geli dengan jawaban Abunawas.

“Mana mungkin? Mana mungkin manusia bisa terbang dengan cara belajar seperti itu?” cetus Baginda menertawakan jawaban Abunawas.

“Mengapa tidak mungkin?” protes Abunawas cepat. “Semuanya mungkin saja. Karena kalau sampai hamba tidak bisa terbang, bagaimana mungkin hamba bisa memetik bintang yang Baginda perintahkan?”

Baginda semakin tertawa tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Abunawas. Dia mengerti arah jawaban Abunawa sesungguhnya. Abunawas pasti berusaha berkelit dari perintah yang dia berikan.

“Bilang saja kau berusaha mengelak dari perintahku. Jangan pakai cara yang menakutkan seperti itu,” cetus Baginda dengan muka tersenyum simpul. Dalam hati, Baginda kembali memuji kecerdikan Abunawas. @@@

 

Mentari Edisi 320 Tahun 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s