Cerita Anak

Jangan Nyontek, Donk!

Muka Riana bagai dilipat dua, pertanda dia sedang marah dan kesal. Entah apa yang menyebabkannya. Hingga bel pulang berbunyi, muka Riana tak berubah sedikit pun. Ekspresinya itu, membuat Santi sahabatnya, heran.

“Rin, kamu kenapa cemberut gitu? Lagi ada masalah, ya?” tanya Santi hati-hati, takut melukai perasaan Riana.

Yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya. “Nggak ada!” jawab Riana singkat, padat dan jelas.

“Apa tentang ulangan matematika tadi? Apa kamu dapat nilai jelek?”

“Udah dibilang nggak ada masalah, ya nggak ada! Kamu cerewet banget, sih!” bentak Riana.

Santi diam seribu bahasa. Ia tidak mengira, kalau pertanyaannya tadi membuat sahabatnya marah sekali. Riana yang melihat perubahan wajah Santi, menjadi merasa bersalah.

“Maaf, San! Aku nggak bermaksud membentakmu. Pikiranku kacau sekarang!” kata Riana.

Santi langsung mengerti, apa yang terjadi dengan sahabatnya itu. Santi maklum dengan sikap Riana.

“Nggak apa-apa! Aku juga yang salah, terlalu memaksamu. Tenangkan saja dulu pikiranmu. Baru setelah itu, ceritakan semua padaku. Bagaimana?” tanya Santi.

Riana mengangguk. Lalu mereka berdua berpisah, di gerbang sekolah.

Δ Δ Δ Δ Δ

Riana meletakkan tas di atas tempat tidurnya. Ia berbaring tanpa melepas seragam dan sepatunya, terlebih dahulu. Ia selalu melakukan hal itu, bila pikirannya kesal. Memejamkan mata dan tidak lama kemudian sudah hinggap di alam mimpi. Meski Riana berwatak keras, ia tidak pernah menghancurkan barang, bila sedang marah. Ia lebih memilih tidur, walau belum tentu saat bangun masalahnya akan hilang, dari pikirannya.

Riana tidak tahu, berapa lama tertidur. Ketika bangun, jarum jam sudah menunjuk angka 5. Lantas, ia mandi dan pergi ke ruang makan. Mamanya sedang memasak. Riana memeluk mama dari belakang.

“Sore, sayang!” kata mamanya sambil mengecup kening putri semata wayangnya itu.

“Bagaimana sekolahmu? Baik, kan? Oh, ya, tadi ulangannya dapat berapa?”
Riana menyodorkan lembar ulangan matematika ke mamanya. Mama Riana memperhatikan dengan seksama.

“Bagus, kok! Lumayan dapat 90!” kata mama Riana sambil melihat ekspresi putrinya itu. Sebagai seorang ibu, ia tahu kalau Riana sedang ada masalah. “Kenapa sayang? Kenapa mukamu cemberut?”

“Aku kesal, Ma!” Mama Riana heran, tidak mengerti maksud perkataan putrinya itu.

“Temanku ada yang nyontek dan dapat nilai 95. Gimana aku nggak kesal?! Aku sudah belajar mati-matian, tapi dia seenaknya saj menyontek ulanganku. Pantas saja, dia dapat nilai lebih bagus dariku!” cerocosnya.

Mama Riana tersenyum, melihat putrinya itu mengomel-ngomel. “Riana sayang, tadi kamu pasti membentak Santi, iya, kan?” tanya mamanya.

“Lho, mama kok tahu?” Riana heran. Dia ‘kan tadi menceritakan temannya yang nyontek, kok mama malah tanya tentang Santi. “Iya, tadi aku memang membentaknya.

“Habis, aku kesal sama temanku, yang nyontek itu. Tapi, aku sudah minta maaf ke Santi, kok, ma!”

“Riana … Riana … Ingat, kamu ini sekarang sudah kelas 6. Sudah tambah besar. Harus lebih dewasa dong! Jangan membawa masalah kepada orang lain. Untung saja, Santi yang kena damprat, tahu tentang watakmu ini. Gimana kalau orang lain? Orang lain yang belum tahu watakmu. Bisa-bisa, Perang Dunia III bakal meletus, nih!” gurau mama Riana.

“Kamu harus belajar menyelesaikan masalah sendiri. Juga menyimpan atau melepaskan amarahmu, di tempat yang tepat. Seperti masalah dengan temanmu yang nyontek tadi. Kenapa kamu kesal, justru kamu harusnya kasihan. Itu buktinya, kalau kamu lebih pintar dari dia. Kamu dapat nilai 90 atas usahamu sendiri. Sedangkan dia mendapat nilai 95, tapi bukan usahanya sendiri. Ingatlah, Riana, anak yang suka nyontek, hidupnya akan bergantung pada orang lain. Ia tidak akan berhasil, karena malas,” nasihat mama Riana.

Di pikir-pikir betul juga apa kata mama, batinnya.

“Pokoknya kamu harus percaya diri. Baik itu jelek atau bagus. Kalau dapat jelek, ulangan berikutnya harus lebih bagus,” kata mamanya.

Riana tersenyum. Mama memang tahu betul, bagaimana menghilangkan rasa kesalnya.

Mama selalu ada, saat dia membutuhkannya. “Ya … Tuhan, jaga mama dengan baik, ya …!” Do’a Riana dalam hati. Riana berdiri dan mencium pipi mamanya, dengan sayang.

“Iya, mama! Anakmu ini akan tambah dewasa, kok! Tenang saja, sekarang rasa kesalku sudah hilang. Aku tahu, apa yang harus aku lakukan. Aku mau belajar dulu. Do’akan dapat nilai bagus, ya!” seru Riana sambil berlari kecil ke kamarnya.

Mama Riana hanya mengeleng-geleng kepala. Di dalam kamar, Riana belajar dengan giat, karena besok ada ulangan. Tanpa seorang pun tahu, ada sebuah rencana yang akan dilakukannya besok.

Δ Δ Δ Δ Δ

“Baiklah anak-anak! Sekarang tutup buku kalian, siapkan alat tulis dan diri kalian! Ujian akan dimulai lima menit lagi!” kata Bu Guru. “Kalian duduk sesuai absen, seperti kemarin. Cepat!”

Riana dan teman-temannya melaksanakan perintah Bu Guru. Lalu, Bu Guru memberikan kertas ulangan. Teman-teman Riana mengeluh, saat melihat soal-soal yang tertulis, di lembar soal. Tapi, Riana tenang saja, karena ia memang sudah belajar. Tidak lama kemudian, Riana sudah sibuk menjawab soal-soal tersebut. Sampai-sampai, ia tidak menyadari sepasang mata yang berusaha melihat, jawaban soal ulangannya itu.

Tanpa terasa waktu terus berjalan, sampai bel tanda istirahat berbunyi. Bu Guru menyuruh murid-muridnya mengumpulkan lembar jawaban mereka. Teman-teman Riana pun menuruti perintah Bu Guru. Tapi, Riana belum beranjak dari kursinya. Bu Guru menegurnya, “Riana, ayo, cepat kumpulkan jawabanmu!” perintah Bu Guru.

“Baik, Bu! Sebentar lagi!”jawab Riana. Lima menit kemudian, ia sudah menyerahkan lembar jawabannya, kepada Bu Guru.

Santi, sahabatnya, mendekatinya karena heran melihat Riana yang senyum-senyum sendiri. Padahal, kemarin dia masih marah-marah.

“Riana, kenapa senyum-senyum sendiri? Apa masalahmu sudah selesai?” tanya Santi.

Riana tersenyum. “He … he … he … iya! Masalahku sudah beres …!”

“Oh, baguslah kalau begitu!” sahut Santi.

“Eh, San, sini kubisikkan sesuatu!” Riana menarik lengan Santi, lalu membisikkan sesuatu. Santi senyum-senyum saat Riana berbisik, di telinganya. Setelah itu, Riana juga tak bisa menahan tawanya. Santi ikut-ikutan tertawa.

Apa yang dibisikkan Riana kepada Santi? Ternyata, Riana sengaja menjawab soal-soal ulangannya, dengan jawaban yang salah. Akibatnya, teman Riana yang mencontek jawabannya, menyalin jawaban yang salah. Karena itulah, waktu ulangan tadi, Riana yang paling akhir keluar dari kelas. Karena harus mengganti jawaban-jawabannya itu.

Dasar Riana! Ada-ada saja idenya itu. Alhasil, saat hasil ulangan dibagikan, teman Riana yang menyontek mendapat nilai jelek, dan Riana mendapat nilai bagus. Teman Riana itu heran, kenapa ia bisa mendapat nilai jelek. Padahal, ia sudah menyalin persis jawaban Riana. Santi tertawa, saat tahu bagaimana ekspresinya. Makanya, jangan nyontek, dong! @@@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s