Cerita Anak

Nasihat

Hasil gambar untuk gambar anak sekolah

“Bangun pagi tuh menyehatkan! Apalagi jika kamu terus membersihkan tempat tidurmu! tukas Ayah, ketika melihat Budi selalu bangun kesiangan. “Lebih pagi lagi akan semakin baik. Waktu menunggu berangkat ke sekolah, bisa dipakai membaca buku pelajaran, yang akan diajarkan!”

“Ayah dan ibu nggak mau membangunkan!” gumam Budi.

“Ah, alasan saja!” sahut Ayahnya. “Aku dan ibumu sudah bosan membangunkanmu! Kami sengaja membiarkanmu, agar dengan kesadaranmu sendiri bangun pagi.”

“Saya sudah berusaha, Pak! Tapi susah!” jawab Budi, sambil bergegas ke kamar mandi.

“Nggak! Nggak susah! Kan ada jam beker! Bisa kamu setel hendak bangun jam berapa. Belnya akan membangunkanmu,” jelas Ayahnya.

“Nanti malam akan saya coba!” sahut Budi dari dalam kamar mandi.
Belum juga mandi, Budi sudah keluar. “Handuknya lupa!” katanya.

“Tuh! Tergesa-gesa, kan! Itulah akibatnya bangun terlalu siang!” sambut Ayahnya, melihat Budi yang ingin cepat-cepat menyelesaikan mandinya.

“Tergesa-gesa itu dapat merugikan diri sendiri atau orang lain!” tambah ayahnya pula.

Budi hanya diam dan kembali ke kamar mandi. Sambil mandi ia hanya menyesali perbuatannya, yang selama ini telah mngecewakan kedua orang tuanya. Tak kurang kedua orang tuanya selalu mengingatkan.

“Coba kamu perhatikan nilai-nilai ulanganmu! Semua dibawah nilai tujuh puluh!” kata-kata ayahnya kemarin sore, ketika Budi minta ditanda tangani kertas ulangannya, masih terngiang ditelinganya. “Semua ini terjadi karena aku malas dan kurang memperhatikan nasihat kedua orang tuaku!” gumam Budi sambil cepat menyelesaikan mandinya.

“Lihat! Itu juga akibat dari bangun kesiangan. Buku pelajaran pun baru kamu siapkan sekarang!” hardik ayah, ketika Budi menyiapkan buku-buku pelajaran, yang hendak dibawa ke sekolah. Budi tidak berani berkata sekatah kata pun. Ia tahu, jika tidak segera berangkat, dia juga akan kena marah gurunya karena terlambat masuk.

“Pak, Budi berangkat!” kata Budi sambil mencium tangan ayahnya. Ketika hendak menghampiri ibunya, beliau menegurnya, “Kamu tidak sarapan dulu?”

“Tidak, Bu. Takut terlambat masuk,” jawab Budi sambil berlari kecil, meninggalkan rumah. Ayah dan ibunya pun segera menuju pintu depan. “Hati-hati di jalan!” kata mereka hampir bersamaan. Mereka saling berpandangan, lalu tersenyum. “Mudah-mudahan Budi segera sadar. Ingat akan tugas dan kewajibannya,” desah ayahnya, yang disambut istrinya, “Mudah-mudahan, Pak!”

Sampai di halaman sekolah, Budi tercenung sejenak. Halaman sekolah sudah tampak senyap. “Aku terlambat, aku bakal dapat hukuman lagi,” gumamnya lirih. Tiba-tiba perasaan takut menyelinap ke dalam lubuk hatinya. Badannya serasa gemetar. Dengan berusaha meredam rasa takutnya. Budi mempercepat jalannya, menuju ruang kelasnya.

Tok! Tok! Tok! Suara ketukan tangan Budi mengetuk pintu kelas.

“Masuk!” sahut gurunya dari dalam ruangan.

Perlahan Budi membuka pintu kelasnya, kemudian masuk sambil menutupnya kembali.

“Maaf, Pak! Saya terlambat!” katanya kemudian. Semua temannya mengarahkan perhatiannya kepada Budi. Budi menunduk malu. Ia tidak berani menatap mereka.

“Saya sudah tahu!” jawab Pak Gito, menghentikan menerangkan soal Matematika.

“Lihat! Ini adalah suatu contoh! Contoh yang jangan ditiru!” lanjut Pak Gito, sambil meletakkan buku ke mejanya dan menghampiri Budi. Budi gemetar, keringat dingin pun membasahi badannya. Teman-teman sekelasnya tidak ada yang berani angkat bicara, mereka diam! Memperhatikan.

“Saya dengar, tidak sekali ini saja kamu terlambat?” tanya Pak Gito, yang juga wali kelas 4B, sambil menepuk punggung Budi. Budi menganggukkan kepalanya. “Maafkan saya, Pak! Saya sering bangun kesiangan!” lanjut Budi.

“Begitulah! Bapak senang punya murid sepertimu! Jujur dan mau minta maaf atas kesalahannya!” tukas Pak Gito.

“Saya menyesal, Pak. Saya berjanji mulai besok tidak terlambat lagi.”

“Berjanji?” sahut Pak Gito. Budi mengangguk.

“Baik! Agar kamu tidak lupa akan janjimu, setiap hari selama seminggu, bawalah sebuah tulisan yang agak besar disertai tanda tangan orang tuamu. Isinya ‘Aku berjanji tidak akan terlambat lagi!’ Kamu sanggup?”

“Akan saya kerjakan, Pak,” jawab Budi pelan menahan malu.

“Besok pagi sebelum bel masuk sekolah berbunyi, saya tunggu di ruang guru!” tegas Pak Gito dan meminta Budi segera duduk kembali ke bangkunya. Setelah itu, Pak Gito pun melanjutkan mengajar.

Hati Budi bergelora, pikirannya mendua! Duduk mendengar pelajaran yang diajarkan sekaligus teringat nasihat-nasihat yang diberikan ayahnya sebelum berangkat sekolah.

“Ayah benar! Pak Gito guru yang sangat baik padaku! Mulai besok pagi, aku harus bangun pagi, tanpa harus dibangunkan ayah atau ibu,” katanya dalam hati membulatkan tekad. @@@

 

Mentari, Edisi 359 Tahun 2005

2 thoughts on “Nasihat”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s